Minggu, 30 September 2012

Surat Hati Kecil Ranasya: Teruntuk Sahabat

Surat ini Rana tulis khusus untuk sahabat Rana.

Sahabat, Rana mau bertanya, sahabat marah ya sama Rana? Sahabat marah ya karena Rana memberitahu berita buruk bagi sahabat? Ketahuilah sahabat. Rana memberitahukan kepada sahabat karena Rana tidak mau sahabat terjerumus ke dalam jurang. Rana sadar, memberitahukan hal ini sama saja Rana merusak kebahagiaan sahabat di mata sahabat. Sebaliknya, Rana memberitahukan ini karena Rana tidak ingin membiarkan sahabat jatuh ke dalam kebahagiaan yang salah.

Sepertinya, berulang kali Rana berusaha memberitahu dan menjelaskan kepada sahabat, tetap saja sahabat tak percaya dan tak mau menerima.

Rana sadar, Rana salah. Rana terbawa emosi saat memberitahukan sahabat. Tapi, ketahuilah, bahwa Rana marah karena Rana tidak ingin sahabat salah jalan. Sekali lagi, Rana tidak ingin sahabat terus menerus diperlakukan seperti apa yang sahabat ceritakan kepada Rana.

Sahabat, maafkan atas kesalahan Rana. Maafkan Rana yang selama ini tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagi sahabat. Namun, sepertinya sahabat enggan dengan permohonan maaf Rana. Tidak apa. Tak masalah. Rana tahu, menurut sahabat, Rana telah merusak kebahagiaan sahabat. Terserah sahabat mau berprasangka apa terhadap Rana. Yang jelas, Rana tidak ingin hal buruk terjadi kepada sahabat.

Terimakasih sahabat, karena telah mau menjadi sahabat Rana. Terimakasih sahabat, karena telah mempercayai Rana. Semoga sahabat bahagia dengan dunia baru sahabat. Semoga sahabat menemukan sahabat yang lebih baik dari Rana.




Ranasya

Sabtu, 29 September 2012

Mengejar Mimpi

Ketika kau bermimpi
Dan ketika kamu membuka matamu juga
Kau tersadar bahwa kau sedang berada dalam realita
Sekejap mimpi-mimpi itu terbang bersama angin

Semua berhak untuk bermimpi
Bahkan saat kau memimpikan hal yang tak mungkin sekalipun
Yang menurutmu sulit untuk kau gapai
Percayalah bahwa ada banyak jalan menuju suatu tempat

Jangan pernah bosan untuk berlari
Jangan pernah merasa lelah untuk mengejar mimpi
Karena mimpi adalah harapan
Yang kau bangun sedemikian rupa dalam hidupmu

Sabtu, 22 September 2012

Nostalgia di Bawah Hujan

Saat rintikkan air jatuh tepat di atas kepalamu
Seperti kilat memori itu terekam kembali
Salahnya kamu punya lebih dari satu memori
Nostalgia dengan karakter yang berbeda

Waktu itu tak sengaja
Waktu itu memang direncanakan
Lantas yang mana yang akan kau pilih
Yang mana yang akan kau simpan dalam figuramu

Apa kau sadar bahwa yang tak sengaja itu
Justru terlarang bagimu
Masihkah tetap kau paksakan
Yang justru malah akan menyakitimu

Bagaimana jika kuberikan penawaran untukmu?
Pergilah dan kejar bayangan lamamu
Tinggalkan yang sekarang
Jangan pernah kau punya asa untuk itu

Lebih baik kau buang salah satu
Bukan lebih baik tapi harus
Karena semua itu
Hanya akan memenuhi ruang pikiran dan hatimu

Minggu, 16 September 2012

Welcome New Neighbor!

Today I'll share about my experience. Actually, it was happen yesterday. No, no, no, it was happen since I'm on 2nd grade in  elementary school.

Lanjut bahasa Indonesia aja ya. Bilingual.

Kemarin itu adalah hari plus plus bagi saya. Ada kabar gembira dan kabar buruk. Ya, diawali dari yang kabar gembira, sepupu saya telah melangsungkan pernikahannya kemarin. Congrats! Wish you will be a happy family. Sakinah, mawaddah, warahmah.

Nah, ini dia kabar buruknya. Saya kedatangan tetangga baru. Lho, kok kabar buruk sih? Ya, yang saya maksud tetangga baru di sini adalah bagian dari tetangga saya. Nah, bingung kan. Sama saya juga bingung.

Jadi maksudnya gini. Tetangga depan rumah saya punya peliharaan baru setelah hampir 4 tahun nggak punya peliharaan. Ya, terus apa hubungannya? Oke, perhatikan baik-baik.

Seandainya peliharaannya itu binatang lucu nan berbulu seperti kucing, dengan tangan terbuka dan senang hati saya menerimanya. Tapi, yang saya maksud peliharaan di sini itu... Doggy! Ya, you know what I mean. Ini mengingatkan saya akan pengalaman 10 tahun silam.

Pertama kali saya pindah ke rumah yang Alhamdulillah sampai sekarang saya tinggali, tetangga depan rumah memang memelihara doggy. Sebenarnya sih saya nggak masalah selama doggy itu nggak mengganggu dan nggak galak. Nah, yang jadi masalah, doggy itu setiap pagi gong-gong di depan rumah minta makan. Waktu itu sampai pernah masuk ke rumah. Bayangkan, coba bayangkan? Oke, seandainya doggy nggak najis (menurut ajaran agama), mungkin saya Insya Allah nggak takut. Tapi nggak jadi jaminan juga sih.

Nah, pengalaman yang nggak kalah manarik juga saya alami. Saat pulang sekolah, tak jarang doggy itu menghadang saya. Otomatis dengan begitu saya nggak bisa masuk ke rumah. Saat berangkat les, doggy itu mondar-mandir di depan rumah saya. Otomatis saya nggak bisa berangkat les. Kadang, kalau doggy itu terus mondar-mandir, saya memutuskan untuk nggak les alias bolos. Begitu juga saat pulang les. Waktu itu saya sampai pernah manjat pagar saking takutnya dikejar. Setelah doggy itu dipanggil sama tuannya, giliran saya yang nggak bisa turun. Memang dasarnya saya nggak bisa manjat.

Sebenarnya, warga sekitar lainnya juga menuai protes atas kelakuan si doggy itu. But my mother said, "Kayaknya doggy itu kurang dikasih makan deh. Kalo emang dia dikasih makan yang cukup, nggak mungkin sepatu kerja Ayah sama sendalmu digigit sampai robek. Terus, nggak mungkin juga dia ngacak-ngacak kantung semen yang ada di depan rumah, sampai semennya berkurang gitu. Mungkin dimakan."

Glek! Ya, begitulah...

Sampai akhirnya, saya patut untuk lega dan bersyukur, kalau doggy itu dibawa ke Medan, ikut pindah sama anak tuannya. Alhamdulillah... Akhirnya saya bukan anak rumahan lagi. Akhirnya saya bisa bebas. I'm free...

Setahun... Dua tahun... Tiga tahun... Hidup saya damai sentosa. Sampai klimaksnya adalah kemarin. Saya dan adik saya mendengar suara lolongan doggy. Ketika adik saya mengecek keluar rumah, lalu kembali masuk ke rumah. Dengan innocence face dia berkata, "Teh, tetangga depan kita pelihara doggy lagi."

Glek... Glek...! Haruskah pengalaman 10 tahun itu saya rasakan kembali? Bagaimana saya berangkat sekolah? Bagaimana saya pulang sekolah? Bagaimana saya pergi keluar rumah? Sepertinya saya akan menjadi anak rumahan setelah kejadian ini.

Positifnya, sudah kelas 12 supaya nggak banyak main. Negatifnya... Entahlah. Doakan saja semoga semuanya lancar.

Minggu, 09 September 2012

Elia Abu Mahdi Berkata

Orang berkata, "Langit selalu berduka dan mendung."
Tapi aku berkata, "Tersenyumlah, cukuplah duka cita di langit sana."
Orang berkata, "Masa muda telah berlalu dariku."
Tapi aku berkata, "Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda tak kan pernah mengembalikannya."
Orang berkata, "Langitku yang ada di dalam jiwa telah membuatku merana dan berduka.
Janji-janji telah mengkhianatiku ketika kalbu telah menguasainya.
Bagaimana mungkin jiwaku sanggup mengembangkan senyum manisnya?"
Maka akupun berkata, "Tersenyum dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya."
Orang berkata, "Perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan, ia laksana musafir yang akan mati karena terserang rasa haus."
Tapi aku berkata, "Tetaplah tersenyum, karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu. Cukuplah engkau tersenyum, karena mungkin hausmu akan sembuh dengan sendirinya.
Maka mengapa kau harus bersedih dengan dosa dan kesusahan orang lain, apalagi sampai engkau seolah-olah yang melakukan dosa dan kesalahan itu?"
Orang berkata, "Sekian hari raya telah tampak tanda-tandanya seakan memerintahkanku membeli pakaian dan boneka-boneka. Sedangkan aku punya kewajiban bagi teman-teman dan saudara, namun telapak tanganku tak memegang walau hanya satu dirham adanya."
Kukatakan: Tersenyumlah, cukuplah bagi dirimu karena Anda masih hidup, dan engkau tidak kehilangan saudara-saudara dan kerabat yang kau cintai.
Orang berkata, "malam memberiku minuman 'alqamah 
tersenyumlah, walaupun kau makan buah 'alqamah
Mungkin saja orang lain yang  melihatmu berdendang akan membuang semua kesedihan. Berdendanglah
Apa kau kira dengan cemberut akan memperoleh dirham atau kau merugi karena menampakkan wajah berseri?
Saudaraku, tak membahayakan bibirmu jika engkau mencium juga tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri
Tertawalah, sebab meteor-meteor langit juga tertawa mendung tertawa, karenanya kami mencintai bintang-bintang
Orang berkata, "Wajah berseri tidak membuat dunia bahagia yang datang ke dunia dan pergi dengan gumpalan amarah."
Kukatakan, "Tersenyumlah, selama antara kau dan kematian ada jarak sejengkal, setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum."

Sayap-Sayap Patah - Kahlil Gibran

Wahai Langit
Tanyakan pada-Nya
Mengapa Dia menciptakan sekeping hati ini
Begitu rapuh dan mudah terluka
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta
Begitu kuat dan kokoh
Saat berselimut cinta dan asa

Mengapa Dia menciptakan rasa sayang dan rindu
Di dalam hati ini
Mengisi kekosongan di dalamnya
Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih
Menimbulkan segudang tanya
Menghimpun berjuta asa
Memberikan semangat
Juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira

Mengapa Dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa
Menghimpit bayangan
Menyesakkan dada
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa

Wahai ilalang
Pernah kan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini
Mengapa kau hanya diam
Katakan padaku
Sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini
Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali
Desiran angin membuat berisik dirimu
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku
Aku tak tahu apa maksudmu
Hanya menduga

Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana
Menunggumu dengan setia
Menghargai apa arti cinta
Hati yang terjatuh dan terluka
Merobek malam menoreh seribu duka
Kukepakkan sayap-sayap patahku
Mengikuti hembusan angin yang berlalu
Menancapkan rindu
Disudut hati yang beku
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin
Berserakan
Sebelum hilang di terpa angin
Sambil terduduk lemah
Kucoba kembali mengais sisa hati
Bercampur baur dengan debu
Ingin kurengkuh

Kugapai kepingan di sudut hati
Hanya bayangan yang kudapat
Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya
Tak sanggup ku kepakkan kembali sayap ini
Ia telah patah
Tertusuk duri-duri yang tajam
Hanya bisa meratap
Meringis
Mencoba menggapai sebuah pegangan

Pecah

Malam ini hening
Ketika kau tatap langit
Kau akan temukan sejuta bintang
Menghampar tak terhingga

Desiran angin membelai dirimu
Menusuk hingga ke dalam rusukmu
Dingin tak tahu diri
Perlahan tapi pasti

Entah kenapa bayangnya muncul
Begitu saja seperti debu
Mengitari relung diri
Makin lama makin jadi

Dia tersenyum
Tapi kau melihat sosok selain dirimu
Tepat di belakangnya
Merengkuh hangat di dekapnya

Pisau itu menikam dirimu
Menahan sebutir air mata pun tak kuasa
Apa daya, dirimu hanya bisa menerawang
Mengira apa yang akan terjadi padamu

Seketika semua pecah
Karena kehadirannya dan orang tak dikenal itu
Mimpi-mimpi dan angan-angan yang retak
Mencoba menyatukan kembali namun sulit

Kau ambil pecahan mimpimu
Menyusunnya perlahan
Naas angin kencang itu bertiup lagi
Kau tatap nanar kepingan mimpimu yang berserakan

Sepertinya sekarang kau sadar
Kau lelah dan berhenti mencoba
Memilih mengabaikan mimpimu
Meninggalkannya tanpa harus mengingatnya