Senin, 08 Oktober 2012

The Benefits

Everything has benefits, although it also has weakness.

Ya, setiap sesuatu pasti punya manfaat dan kekurangan. Itu pasti.

Mungkin saya nggak akan bertele-tele khusus untuk posting kali ini. Karena sebenarnya posting ini hanya sebagian curahan perasaan (?) Sudahlah, tidak terlalu penting.

Mungkin, saya tidak akan menjelaskan secara detail di sini, tetapi intinya saja.

Bad score. Yes. Everyone has got bad score in their life, including me. Ya, setiap orang pasti pernah mengalami hal itu, dan hal yang tadi disebutkan itu sedang saya alami.

But, when I got bad score one year ago, I feel that I get the knowledge.

Ya, walaupun saya dapat nilai jelek, tapi saya merasa saya dapat ilmunya. Well, it's not mean that I'm not down. Who says? Saya juga sempat down, tapi entah kenapa saya merasa bahwa di satu sisi lain saya mendapat ilmu itu dan saya paham. For me, that's good thing. Buat saya pribadi, itu adalah hal yang membanggakan. Karena dari sanalah kita mendapatkan intisari yang kita cari selain sebuah nilai.

Ya, sesuai janji saya tadi, nggak akan bertele-tele, mungkin cukup sekian posting kali ini. I hope I can through this problem in my life. Maybe this is... Trials of life. But I believe that Allah doesn't give difficult trials of life to people. I believe I can through and pass from this because Allah. Aamiin.

Minggu, 07 Oktober 2012

Terlambat

Satu kata untukmu
Terlambat
Dan kamu berkata
"Aku juga tak mau seperti ini"

Ya, siapa yang mau seperti itu?
Semua orang juga tak mau sepertimu
Yang tersisa tinggalah kepingan sesal
Merutuki sesak di dada

Sebenarnya kamu juga tak ingin ini terjadi
Karena ini bukanlah pilihanmu
Semuanya datang begitu saja
Tanpa sebab alasan yang jelas

Sekarang kamu hanya bisa menahan sesakmu
Berusaha tegar di tepi tebing tinggi
Menahan semua yang ada dalam dirimu
Hingga kamu bisa meninggalkannya

Jumat, 05 Oktober 2012

Terima atau Tolak

Malang sekali nasibmu
Ternyata kamu belum bisa
Sepenuhnya lepas dari memori itu
Ya memang itu karena salahmu
Ya memang itu akibat perbuatanmu

Malang sekali nasibmu
Sekarang kamu malah terjebak
Dalam roda dirimu sendiri
Mencoba berlepas diri
Belenggu itu tetap datang menghampiri

Hanya ada dua pilihan untukmu
Terima semua ini
Atau tolak sebisamu
Sejauh mungkin untukmu
Agar kamu bisa meringankan beban hatimu

Mungkin kamu bisa berbohong
Tapi tidak untuk diri dan hatimu
Sudahlah akui saja
Untuk apa membohongi diri
Kalau nanti berujung pada duri

Mungkin lebih baik kamu dengannya
Jadi tolaklah sekarang apa yang terjadi
Karena kamu pun tahu
Bahwa memori itu tak baik untukmu
Memori itu tak pantas singgah di hidupmu

Minggu, 30 September 2012

Surat Hati Kecil Ranasya: Teruntuk Sahabat

Surat ini Rana tulis khusus untuk sahabat Rana.

Sahabat, Rana mau bertanya, sahabat marah ya sama Rana? Sahabat marah ya karena Rana memberitahu berita buruk bagi sahabat? Ketahuilah sahabat. Rana memberitahukan kepada sahabat karena Rana tidak mau sahabat terjerumus ke dalam jurang. Rana sadar, memberitahukan hal ini sama saja Rana merusak kebahagiaan sahabat di mata sahabat. Sebaliknya, Rana memberitahukan ini karena Rana tidak ingin membiarkan sahabat jatuh ke dalam kebahagiaan yang salah.

Sepertinya, berulang kali Rana berusaha memberitahu dan menjelaskan kepada sahabat, tetap saja sahabat tak percaya dan tak mau menerima.

Rana sadar, Rana salah. Rana terbawa emosi saat memberitahukan sahabat. Tapi, ketahuilah, bahwa Rana marah karena Rana tidak ingin sahabat salah jalan. Sekali lagi, Rana tidak ingin sahabat terus menerus diperlakukan seperti apa yang sahabat ceritakan kepada Rana.

Sahabat, maafkan atas kesalahan Rana. Maafkan Rana yang selama ini tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagi sahabat. Namun, sepertinya sahabat enggan dengan permohonan maaf Rana. Tidak apa. Tak masalah. Rana tahu, menurut sahabat, Rana telah merusak kebahagiaan sahabat. Terserah sahabat mau berprasangka apa terhadap Rana. Yang jelas, Rana tidak ingin hal buruk terjadi kepada sahabat.

Terimakasih sahabat, karena telah mau menjadi sahabat Rana. Terimakasih sahabat, karena telah mempercayai Rana. Semoga sahabat bahagia dengan dunia baru sahabat. Semoga sahabat menemukan sahabat yang lebih baik dari Rana.




Ranasya

Sabtu, 29 September 2012

Mengejar Mimpi

Ketika kau bermimpi
Dan ketika kamu membuka matamu juga
Kau tersadar bahwa kau sedang berada dalam realita
Sekejap mimpi-mimpi itu terbang bersama angin

Semua berhak untuk bermimpi
Bahkan saat kau memimpikan hal yang tak mungkin sekalipun
Yang menurutmu sulit untuk kau gapai
Percayalah bahwa ada banyak jalan menuju suatu tempat

Jangan pernah bosan untuk berlari
Jangan pernah merasa lelah untuk mengejar mimpi
Karena mimpi adalah harapan
Yang kau bangun sedemikian rupa dalam hidupmu

Sabtu, 22 September 2012

Nostalgia di Bawah Hujan

Saat rintikkan air jatuh tepat di atas kepalamu
Seperti kilat memori itu terekam kembali
Salahnya kamu punya lebih dari satu memori
Nostalgia dengan karakter yang berbeda

Waktu itu tak sengaja
Waktu itu memang direncanakan
Lantas yang mana yang akan kau pilih
Yang mana yang akan kau simpan dalam figuramu

Apa kau sadar bahwa yang tak sengaja itu
Justru terlarang bagimu
Masihkah tetap kau paksakan
Yang justru malah akan menyakitimu

Bagaimana jika kuberikan penawaran untukmu?
Pergilah dan kejar bayangan lamamu
Tinggalkan yang sekarang
Jangan pernah kau punya asa untuk itu

Lebih baik kau buang salah satu
Bukan lebih baik tapi harus
Karena semua itu
Hanya akan memenuhi ruang pikiran dan hatimu

Minggu, 16 September 2012

Welcome New Neighbor!

Today I'll share about my experience. Actually, it was happen yesterday. No, no, no, it was happen since I'm on 2nd grade in  elementary school.

Lanjut bahasa Indonesia aja ya. Bilingual.

Kemarin itu adalah hari plus plus bagi saya. Ada kabar gembira dan kabar buruk. Ya, diawali dari yang kabar gembira, sepupu saya telah melangsungkan pernikahannya kemarin. Congrats! Wish you will be a happy family. Sakinah, mawaddah, warahmah.

Nah, ini dia kabar buruknya. Saya kedatangan tetangga baru. Lho, kok kabar buruk sih? Ya, yang saya maksud tetangga baru di sini adalah bagian dari tetangga saya. Nah, bingung kan. Sama saya juga bingung.

Jadi maksudnya gini. Tetangga depan rumah saya punya peliharaan baru setelah hampir 4 tahun nggak punya peliharaan. Ya, terus apa hubungannya? Oke, perhatikan baik-baik.

Seandainya peliharaannya itu binatang lucu nan berbulu seperti kucing, dengan tangan terbuka dan senang hati saya menerimanya. Tapi, yang saya maksud peliharaan di sini itu... Doggy! Ya, you know what I mean. Ini mengingatkan saya akan pengalaman 10 tahun silam.

Pertama kali saya pindah ke rumah yang Alhamdulillah sampai sekarang saya tinggali, tetangga depan rumah memang memelihara doggy. Sebenarnya sih saya nggak masalah selama doggy itu nggak mengganggu dan nggak galak. Nah, yang jadi masalah, doggy itu setiap pagi gong-gong di depan rumah minta makan. Waktu itu sampai pernah masuk ke rumah. Bayangkan, coba bayangkan? Oke, seandainya doggy nggak najis (menurut ajaran agama), mungkin saya Insya Allah nggak takut. Tapi nggak jadi jaminan juga sih.

Nah, pengalaman yang nggak kalah manarik juga saya alami. Saat pulang sekolah, tak jarang doggy itu menghadang saya. Otomatis dengan begitu saya nggak bisa masuk ke rumah. Saat berangkat les, doggy itu mondar-mandir di depan rumah saya. Otomatis saya nggak bisa berangkat les. Kadang, kalau doggy itu terus mondar-mandir, saya memutuskan untuk nggak les alias bolos. Begitu juga saat pulang les. Waktu itu saya sampai pernah manjat pagar saking takutnya dikejar. Setelah doggy itu dipanggil sama tuannya, giliran saya yang nggak bisa turun. Memang dasarnya saya nggak bisa manjat.

Sebenarnya, warga sekitar lainnya juga menuai protes atas kelakuan si doggy itu. But my mother said, "Kayaknya doggy itu kurang dikasih makan deh. Kalo emang dia dikasih makan yang cukup, nggak mungkin sepatu kerja Ayah sama sendalmu digigit sampai robek. Terus, nggak mungkin juga dia ngacak-ngacak kantung semen yang ada di depan rumah, sampai semennya berkurang gitu. Mungkin dimakan."

Glek! Ya, begitulah...

Sampai akhirnya, saya patut untuk lega dan bersyukur, kalau doggy itu dibawa ke Medan, ikut pindah sama anak tuannya. Alhamdulillah... Akhirnya saya bukan anak rumahan lagi. Akhirnya saya bisa bebas. I'm free...

Setahun... Dua tahun... Tiga tahun... Hidup saya damai sentosa. Sampai klimaksnya adalah kemarin. Saya dan adik saya mendengar suara lolongan doggy. Ketika adik saya mengecek keluar rumah, lalu kembali masuk ke rumah. Dengan innocence face dia berkata, "Teh, tetangga depan kita pelihara doggy lagi."

Glek... Glek...! Haruskah pengalaman 10 tahun itu saya rasakan kembali? Bagaimana saya berangkat sekolah? Bagaimana saya pulang sekolah? Bagaimana saya pergi keluar rumah? Sepertinya saya akan menjadi anak rumahan setelah kejadian ini.

Positifnya, sudah kelas 12 supaya nggak banyak main. Negatifnya... Entahlah. Doakan saja semoga semuanya lancar.