Jumat, 25 Juli 2014

Hai Teman

Hai teman...
Masih ingatkah kamu perjuangan kita dulu?
Hai teman...
Masih ingatkah kamu nazar kita dulu?

Hai teman...
Lama tak bersua denganmu
Saat kumenghubungimu aku hanya bisa menghela napas
Yang kudapat berita yang membuatku terguncang merasakan gempa parsial di sekitarku

Hai teman...
Seandainya ada mesin waktu
Aku ingin mengulangi masa-masa dulu
Kalau bisa aku mengulang, aku ingin tahu lebih awal berita yang kutahu baru-baru ini

Hai teman...
Maaf aku belum bisa mengunjungimu
Maaf aku belum bisa menampakkan batang hidungku dihadapanmu
Maafkan aku, teman

Hai teman...
Meskipun begitu, aku tak pernah lupa terhadapmu
Walau ragaku belum sempat bertemu denganmu
Namun do'aku selalu mengalir untukmu

Semangat teman...
Aku selalu memohon untuk kesembuhanmu
Aku selalu memohon agar engkau sehat seperti dulu
Aku selalu memohon agar engkau kuat seperti yang kukenal

Semangat teman...
Aku, bahkan kami di sini menantikanmu
Menantikan sosokmu yang teguh, semangat, dan pantang menyerah
Semangat teman...

Andai kau membaca ini
Rasa rinduku terhadapmu lebih dari kata-kata yang kutuangkan dalam puisi ini
Semoga kita bertemu
Wahai teman yang kurindu

Minggu, 20 Juli 2014

Tentang Ulang Tahun

Hai... Lama tak menulis membuat saya ingin menceritakan semua isi yang ada di kepala saya.

Ulang tahun... Hm, dua kata yg selalu dialami setiap orang dalam setiap tahun. Berbicara tentang ulang tahun, saya ingin tahu kesan apa yang terlintas saat kalian berulang tahun? Menurut kalian, ulang tahun itu apa sih?

Kalau menurut saya, ulang tahun itu... bertambahnya umur di dunia dan berkurangnya umur di akhirat. Sebenarnya sih lebih dari itu. Ulang tahun versi saya itu adalah kesempatan. Ya, kesempatan yang Allah SWT berikan kepada saya untuk terus beribadah kepada-Nya.

Saya merasa ulang tahun saya di tahun 2014 ini, berkah. Iya, berkah menurut saya. Tepat sehari sebelum ulang tahun, penyakit thypus mendera saya. Saat itu, saya ikhlas dan ridha ketika saya harus sakit, namun melalui sakit itu dapat menjadi penggugur dosa untuk saya. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur.

Setelah itu, saya juga mendapat hadiah dari teman-teman saya. Hadiah yang diberikan teman-teman saya adalah sesuatu yang bermanfaat dan menjadi syafa'at baik di dunia maupun di akhirat.

Jadi menurut saya dan sudut pandang saya...

Sikap yang paling tepat saat ulang tahun adalah...

Bersyukur karena Allah SWT masih memberi kita kesempatan hidup, kesempatan untuk beribadah kepada-Nya. Bukan malah berharap hadiah material (kebendaan), apalagi sampai 'kode-kodean' segala *eh*. Hahaha...

Kamis, 17 Juli 2014

Jalan yang Kau Lalui, Ukhti

Ukhti, bersyukurlah...
Karena kehidupan yang kau jalani tak seperti kehidupanku
Ukhti, bersyukurlah...
Karena apa yang kau miliki tak seperti kepunyaanku
Ukhti, bersyukurlah...
Karena memang ini jalan yang harus kau lalui

Ukhti, setidaknya kau masih bisa bertemu dengannya
Kau tau siapa sosok itu, Ukhti
Ukhti, tetaplah istiqomah dan jangan bosan memohon petunjuk-Nya
Ukhti, inilah jalanmu, berbeda dengan jalanku

Jalanmu yang memang sudah dipertemukan sosok itu oleh-Nya
Aku ikut berbahagia, Ukhti
Jalanku masih panjang, Ukhti, masih banyak urusan lain yang harus aku jalani
Jika jalanmu sudah dipertemukan, Ukhti, maka jalanku hanya sebatas mendo'akan yang terbaik untuknya

Rabu, 25 Juni 2014

Ingatlah Rihlah Ini


23 Juni 2014

Sebelumnya... saya mohon maaf kepada teman-teman, terutama yang tidak dapat hadir dalam rihlah ini. Bukan bermaksud untuk membuat iri apalagi pamer. Bukan. Saya hanya ingin sedikit berbagi kebahagian dan kebersamaan lewat tulisan kecil ini. Semoga dengan tulisan kecil ini, kita selalu mengingat rihlah pertama ini :)

Di awali dengan apa ya? Mungkin bisa dibilang rapat panitia MPAJ, karena rata-rata dari kami adalah panitia MPAJ. Kami berangkat dari kampus setelah zhuhur. Saya, Cheri, Galih, Septia, dan Septin berangkat dengan armada kebanggaan kami (baca: transjakarta), sedangkan Anna mengendarai motornya. Tak lupa juga, Cucu dan kak Mimi yang langsung menuju tempat tujuan. Karena kondisi yang tak memungkinkan untuk kami berangkat bersama, kami sepakat untuk bertemu di suatu 'titik' di tempat tersebut.

Tidak lama kami (saya, Cheri, Galih, Septia, dan Septin) sampai, kami langsung bertemu kak Mimi. Kami langsung menuju 'titik' yang telah disepakati untuk bertemu. Sudah ada Cucu di sana. Kak Mimi masih berusaha mencari Anna. Oh iya, kejadian ini tak boleh luput dari tulisan kecil ini. Ada pernyataan kecil yang menurut saya menggelitik. Percakapan ini tentang Anna yang sempat terpisah karena mencari tempat 'titik' kami bertemu. Setelah Anna berhasil ditemukan bertemu dengan kak Mimi, pernyataan kecil itu terlontar,

"Untung Anna ditemuinnya sama kak Mimi, coba kalo sama satpol PP."

Pernyataan singkat itu sontak membuat kami tertawa. Oh iya, supaya lebih menghayati bagian lucunya, silakan membayangkan ekspresi Septia saat menyatakan kalimat tersebut.

Setelah 'lengkap', kami mencari lokasiyang pas untuk benar-benar berkumpul. Ya, bisa dibilang piknik bersama. Acara dibuka oleh Anna sebagai MC dan dilanjutkan dengan acara spesial, hihihi.

Apa sih acara spesialnya?

Jadi, acara spesialnya itu adalah mengenal pribadi masing-masing satu sama lain. Dimulai dari perkenalan diri, hal yang disuka dan tidak disuka, (saya agak lupa bagian ini), dan dilanjut dengan pertanyaan dari teman-teman. Acara ini berlanjut sampai adzan ashar berkumandang dan acara ini sempat dipending (baca: persiapan sholat ashar).

Yap, acara selesai dengan pembagian buah tangan dari kak Mimi. Apakah itu? Yak, tepat! Buku-buku islami nan bermanfaat (terimakasih kak Mimi ^_^).

Baiklah, itulah sekilas catatan kecil saya tentang rihlah ini. Mohon maaf ya kalau catatan kecil ini benar-benar 'kecil', hehehe.

Oh iya tambahan, kemarin dapat ide dari Septia yang nyeletuk, "Liqo goes to Mekah. Liqonya bareng kak Mimi di depan Ka'bah."
Aamiin. Mari kita aamiin-kan agar omongan Septia adalah do'a. Aamiin *seraya berkata pada semesta*

Minggu, 22 Juni 2014

Cita-citaku (Bertambah) Satu

Masih sempat-sempatnya saya posting, padahal besok pagi harus rapat... Tak apa, selagi ide masih hangat.

Langsung saja ke bahasan kali ini...

Sepertinya cita-cita saya bertambah. Hal ini saya sadari sejak melihat tayangan debat capres putaran kedua. Dan semakin diperkuat lagi pada tayangan debat capres putaran ketiga tadi. Yang terlintas di pikiran anda mungkin, "Oh, kamu mau jadi presiden ya?" Hm... Prediksi anda kurang tepat. Hehehe...
Cita-cita saya yang satu ini terbilang... ah tidak ada apa-apanya di mata umum. Tapi, menurut pandangan saya, cita-cita ini begitu mulia. Ya, tanpa mereka, entahlah apa jadinya bagi mereka yang membutuhkan. Ada yang bisa tebak cita-cita tambahan saya apa? :)

Cita-cita tambahan saya adalah... seseorang yang ada di pojok kiri bawah pada tayangan debat capres putaran kedua dan ketiga. Penerjemah. Iya, penerjemah bagi orang penyandang tuna rungu. Bagi saya, profesi itu sangat mulia. Ya, mungkin terbilang 'tak ada apa-apanya' di mata umum, tapi tidak di mata mereka yang membutuhkan. Penerjemah itu ibarat jembatan yang menghubungkan komunikasi antara penyandang tuna rungu dengan orang yang normal. Tanpa kehadiran mereka, entah bagaimana komunikasi antara penyandang disabilitas dengan orang yang normal. Bagi saya, penerjemah itu... the best. Mungkin di dunia mereka yang berprofesi seperti ini dipandang biasa saja, tapi in syaa Allah, semoga profesi mereka menjadi pahala di akhirat nanti. Aamiin Yaa Rabb.

Sabtu, 14 Juni 2014

Tentang UAP

Saya akui posting itu patut diberi hash tag #latelypost. Seharusnya saya mengetik posting ini pada tanggal 9 Juni 2014, namun saya lebih memutuskan untuk mengetiknya sekarang. Kenapa? Setidaknya saya telah melewati masa-masa greget saya (baca: UAS kalkulus II). Selain itu, faktor penentu terpenting adalah... *jeng jeng jeng* mengumpulkan mood saya untuk menulis, hahaha.

Pada posting kali ini saya akan membahas tentang UAP. Iya, UAP - Ujian Akhir Praktikum dalam dua semester pertama yang saya alami. Baiklah... Saya akan mulai dari semester pertama, dimulai dari UAP yang terpahit (mungkin).

Bisa dibilang ini adalah UAP terpahit versi saya. Sebenarnya alasan utama saya membahas UAP ini lebih dulu karena memang saya melaksanakan UAP ini duluan. UAP ini adalah UAP... FD I. Jadi saat UAP FD I, praktikum yang saya dapatkan itu... abstrak buat saya. Kenapa? Karena saya belum pernah melakukannya sama sekali. UAP yang In syaa Allah tidak saya lupa, bagaimana atmosfernya dan berhasil membuat saya menitikkan satu tetes air mata. Untuk lebih jelasnya bagaimana perasaan saya dibuat kalut dengan UAP ini, sila klik posting ini.

UAP kedua yang saya alami adalah UAP Biologi Umum. Setidaknya dalam UAP ini tak berakhir tragis seperti UAP pertama yang sukses membuat perasaan saya kalut.

UAP ketiga di semester pertama saya adalah... UAP KD I. Mungkin di UAP ini saya lebih bisa bernapas lega dan megucap hamdalah, karena materi yang saya dapat setidaknya saya kuasai dan saya pernah melakukan praktikum tersebut. Pada UAP KD I, ada keterkaitan khusus lho dengan UAP di semester kedua, hihihi.

Semester pertama tutup buku. Saatnya membahas semester kedua...

Lagi-lagi, entah memang takdir atau apa, UAP yang saya jalani adalah FD II. Dibanding semester pertama, saya lebih bisa bernapas lega, karena praktikum yang saya dapatkan tidak sampai membuat saya menitikkan air mata dan... Setidaknya, saya bisa mengerjakan UAP walau agak terbata-bata.

UAP kedua dan terakhir di semester kedua adalah KD II. Nah, pada UAP ini saya memiliki pengalaman menarik dan unik. Tebak, apa praktikum yang saya dapatkan pada UAP ini? Yak, tepat, sama seperti pada semester pertama, hanya berbeda metode saja. Saya menyadari hal ini ketika salah satu teman saya berkata,
"Perasaan semester kemarin Reicka dapetnya tit*asi juga deh. Jodoh banget."
Hening sejenak... Saya hanya membalas perkataan itu dengan,
"Iya nih, jodoh sama tit*asi."

Kemudian saya berusaha mengingat UAP pada semester pertama. Tanpa saya sadari, pakaian yang saya kenakan sama persis saat UAP semester pertama. Entah sebuah kebetulan atau kesengajaan, tapi jujur saya merasa bahwa yang terjadi adalah kebetulan. Saya juga tak ingat saat UAP semester pertama pakaian yang saya kenakan.

Baiklah...
Posting ini saya tutup dengan hamdalah. Harapan saya semoga (IP) di semester ini lancar dan baik-baik saja. Aamiin Yaa Rabb.


Best regards

RAS v(^0^)9

Sabtu, 31 Mei 2014

Sudah... Tapi Tetap Saja...

"Seberapa besar aku tak memedulikan, bahkan mengabaikan rasa keingintahuanku, tetap saja ada sesuatu yang aku tahu, baik sengaja maupun tidak."

Entah ini keberapa kalinya saya menghela napas. Mungkin hanya satu kata yang mewakili perasaan saya saat itu. Oke (sambil diiringi helaan napas). Sebenarnya, satu kata itu juga belum semua mewakili apa yang saya rasakan. Baru sebagian.

Begini...
Intinya, seberapa besar usaha saya menutup mata, hati, dan telinga untuk melawan rasa keingintahuan saya, ada saja informasi yang saya terima. Sebenarnya bukan berarti saya tidak senang dengan kehadiran informasi itu, hanya saja, waktunya belum tepat. Ah, sudahlah, sepertinya saya tak perlu memusingkan masalah ini.

Sudahlah...
Lebih baik saya melanjutkan laporan saya yang belum rampung.

Semangat Rei!