Tampilkan postingan dengan label 'Gado-gados' Journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 'Gado-gados' Journal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Agustus 2021

Surat Untuk Danton

Tak terasa ya waktu berlalu begitu cepat. Benar katamu, setahun bukan waktu yang lama. Itu layaknya sebulan jika dijalani dengan senang hati.

Hari ini, 76 tahun sudah Indonesia merdeka. Semoga aku juga kamu merdeka dalam hal memaafkan dan berlapang dada. Kala nanti ada waktu berjumpa, semoga dapat memperbaiki yang pernah terjadi di masa-masa lalu. Dengan begitu, kita saling tenang dengan kehidupan yang baru.

Seperti katamu - melepas dan memaafkan - dua hal itu yang membuat beban-beban di pundak terasa lebih ringan, bahkan memberikan ruang kosong pada bagian yang kau sebut hati, hingga menciptakan kedamaian dengan diri sendiri.

Aku ingin mengucapkan "Merdeka". Semoga aku bisa merdeka dari belenggu masa lalu yang pernah terjadi - begitu juga denganmu.

Senin, 07 September 2020

Berdamai dan Mengasah Keyakinan

Luruh... Seluruh harapku...


Duh... kalau baca judulnya berat. Kalau baca kutipan awalnya nano-nano. Setidaknya begitu definisi kehidupan menurut sudut pandang saya saat ini.


Dengar lagu yang ada dikutipan mengingatkan saya masa-masa penelitian. Masa-masa di mana saya merasa di ambang dan banyak menghela napas, bahkan menitikkan air mata. Alhamdulillaah, masa-masa itu sudah terlewati. Sekarang, waktunya menyambut masa baru, namun rasa di batin tetap saja sama. Sulit memang kalau sudah melibatkan batin.

 

Ketika apa yang diinginkan tak melulu sesuai dengan kenyataan. Tentu saja - jika diminta memilih - saya memilih kenyataan. Simple, karena saya hidup dalam kenyataan, bukan angan-angan - walaupun sebenarnya di satu sisi berat meninggalkan impian yang telah ditata sejak lama. Rasanya memang itu salah satu seni hidup. Memilih apa yang harus dipilih, kemudian berdamai dan menjalani apa yang telah dipilih. Duh... berat bahasanya, hahaha.


Omong-omong tentang berdamai, menurut saya berdamai merupakan proses hidup yang berlangsung dan akan terus berlangsung seumur hidup. Terakhir merasakan berdamai sekitar dua tahun yang lalu. Berarti sekarang tidak berdamai? Tidak juga sih... Berdamai, namun menuju tingkat yang lebih (?). Entahlah, agak sulit jika diminta menjelaskan. Kalau berdasarkan yang dirasakan, mungkin bisa dibilang terus berproses untuk berdamai, karena tidak selalu hidup berjalan sesuai dengan rencana dan keinginan. Pada akhirnya, proses itu membawa saya untuk yakin bahwa rencana Sang Penguasa Alam Semesta lebih - bahkan paling - baik dan indah dari rencana siapapun, termasuk saya. Keterbatasan saya sebagai manusia yang membuat saya jarang menyadari hal itu.

 

Pun untuk meyakinkan diri, perlu terus diasah. Yakin. Memang kecil terlihatnya, namun ketika menjalankan, butuh usaha tak kecil seperti yang terlihat. Mengasah keyakinan pada Sang Pencipta untuk berusaha selalu dekat dengan-Nya. Kalau bukan yakin dengan-Nya, maka kepada siapa lagi harus yakin? Bukankah Dia pemilik bumi, langit, beserta isinya? Bukankah Dia yang mengurus dan menjamin segala sesuatu?

 

Sebuah tamparan dari diri sendiri untuk saya yang terus belajar mendewasakan diri dalam kehidupan.

Selasa, 01 September 2020

Secuil Cerita Tentang Kelulusan

Entah sudah berapa lama tidak bercerita. Setelah sekian waktu menulis ilmiah, rasanya rindu juga bercerita. Saya masih belum berani menjanjikan rubrik cerita di sini. Rubrik Song Fiction saja masih terbengkalai. Huhuhu...

Kali ini saya akan bercerita perjalanan kelulusan saya. Akhirnya... setelah bertahun-tahun, Alhamdulillaah bisa lulus walaupun di penghujung waktu. Setiap momen yang saya alami akan saya rindukan dan menjadi kenangan yang bisa saya ceritakan di masa depan. Kalau menilik lagi ke belakang, suka heran sendiri. Terlalui juga. Terlewati juga. Sampai juga. Rasanya...? Jangan ditanya. Seperti es campur. Bahagia, haru, sedih, nano-nano deh.

Sekarang, saatnya saya bilang pada diri sendiri,

"Welcome to the real life, Rei... Bisa yuk... Kuat yuk... Semangat Reicka!"

Harapan saya semoga bisa melalui setiap proses yang memang harus dijalani. Semoga diri ini diberikan kekuatan dalam keadaan apapun. Semoga diri ini semakin bijak menghadapi sesuatu dalam berbagai kondisi. Semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga...

Jumat, 03 Juli 2020

Every Road, Every Season

Saya baru menyempatkan diri - setelah sekian lama - membuka blog lagi. Rasanya sudah berdebu ya... Posting terakhir Januari 2019. Setelah itu lama menghilang...

Judul posting kali ini terinspirasi dari judul sebuah lagu. Sebenarnya lagunya kalau didengar langsung nggak semiris isi postingan kali ini sih, tapi berhubung judulnya sangat pas dengan kondisi sekarang, dipakailah...

Every road, every season...

Kalau menilik lagi ke belakang - jauh ke belakang - rasanya suka takjub dan nggak percaya dengan diri sendiri. Kalau dipikir-piki lagi, ternyata setiap proses kehidupan yang terjadi bisa terlewati juga. Mulai dari yang biasa-biasa saja, agak terjal, terjal, curam, menghantam... semua itu bisa terlewati walaupun saat mengalami pusing setengah mati. Hehehe...

Setiap hela napas mengisyaratkan banyak makna. Bisa lega, bisa juga lelah. Tergantung panjang hela napas sih. Saat berada dalam kondisi yang terjal bahkan menghantam, helaan napas saja tak cukup. Pengin teriak sejujurnya. Teriak sekencang-kencangnya hingga napas dan suara tak mampu lagi berteriak. Kurang lebih seperti itu analoginya. Setelah terlewati, terlintas di benak, "Loh... sudah selesai?". Sesungguhnya butuh proses panjang untuk sampai pada tahap loh-sudah-selesai.

Saya termasuk orang yang visual (bisa dikatakan seperti itu, sebenarnya saya merasa auditori). Setiap melintas atau singgah di suatu tempat, hal pertama yang muncul di pikiran adalah moment yang berkesan di tempat tersebut. Kalau moment-nya baik, it's okay. Nah, kalau kebalikannya... Rasanya mau menghilang saja. Hahaha...

Agak repot juga sih kalau tipenya seperti ini. Sekali-dua kali masih bisa ditolerir. Kalau berulang kali? Ya nggak mungkin juga ya setiap ada moment nggak enak, apalagi moment itu di rumah, ya masa mau menghilang juga dari rumah? Masa iya harus pindah rumah? Impossible...

Setelah melalui perjalanan panjang, saya menemukan solusinya. Saya mencoba menerima setiap moment dalam hidup saya, baik yang enak maupun tidak. Bagaimana cara menerimanya? Salah satunya berdialog dengan Tuhan. Saya mencoba terus memohon kelapangan serta keridaan untuk diri saya. Saya berharap dengan saya rida, maka Tuhan juga akan rida. Secara teori terlihat mudah, namun saat melakukan, butuh energi dan usaha yang besar. Sampai saat ini, saya juga masih dalam tahap belajar. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan menghasilkan buah yang baik.

Rasa takut, was-was, tidak percaya diri, serta hal-hal negatif lainnya akan menghampiri diri. Siapa yang bisa melawan kalau bukan diri sendiri? Orang lain bahkan orang terdekat tidak akan mampu melawannya. Mereka hanya bisa memberi masukan dan pertimbangan, sedangkan keputusan ada di diri sediri. Apapun yang terjadi, cobalah untuk bertahan dan kuat. Tidak selalu kepahitan bersifat buruk. Ia juga bisa menjadi obat yang menyembuhkan lukamu dan guru yang membentuk dirimu kelak untuk menghadapi kerasnya dunia kehidupan. Tentu saja kerasnya dunia kehidupan bersifat relatif, tergantung subjeknya.

Semoga setiap diri diberikan kekuatan dalam menghadapi berbagai kepahitan yang menghampiri. Kepahitan ada untuk dihadapi, bukan untuk dibawa lari. Karena bisa jadi dari kepahitan itu setiap diri tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tangguh.

Minggu, 06 Januari 2019

Waktu yang Memengaruhi Makna

"Maafkan aku yang tak sempurna. Sampai kapanpun itu aku tetap begini..." (Ecoutez)

Sudah 10 tahun yang lalu terakhir saya mendengar penggalam lirik tersebut. Tentu saja, seiring waktu berjalan dan berlalu dengan liku-likunya penggalan lirik tersebut meninggalkan makna yang berbeda.

Sepuluh tahun yang lalu saya hanya anak SMP yang pikirannya belum kompleks seperti saat ini. Masa-masa saat itu cukup seimbang, ada senang juga sedih. Saat itu, saya memaknai penggalan lirik tersebut dengan galau. Galau karena perasaan sepihak (halah...). Tolong yang ini jangan ditiru ya... Ini masa-masa alay saya, hahaha...

Hari ini, saya mendengar penggalam lirik itu lagi di salah satu stasiun radio. Ada perasaan berbeda ketika mendengarkan. Jauh berbeda saat 10 tahun lalu. Saat itu juga saya sadar bahwa saya telah banyak melalui ruang dan waktu. Saya menempuh perjalanan menuju pribadi yang lebih matang di mana masa galau yang saya alami bukan sekadar perasaan sepihak. Ketika mendengar penggalam lirik itu, saya merasa bahwa "Siapa sih saya?" dan berujung pada jawaban "Manusia yang penuh kekurangan, bahkan penuh ketidaktahuan diri". Memang terdengar menyedihkan, namun seperti itu yang saya rasakan. Tak jarang saya merasa bahwa saya pribadi yang tidak berguna diiringi perasaan bersalah.

Saya sadar sebagai manusia saya tidak bisa membuat bahagia setiap orang, terutama yang ada di sekeliling saya. Jika dulu, saat 10 tahun yang lalu, saya ingin menyanyikan penggalan lirik itu kepada seseorang, maka sekarang saya ingin menyanyikan penggalan lirik itu kepada orang-orang di sekeliling saya: orang tua, adik, sahabat, bahkan dosen pembimbing. Ingin rasanya menyanyikan penggalan lirik itu sebagai perwujudan bahwa saya bukan manusia sempurna seperti yang kalian kira. Bahkan lebih tepat sebagai permohonan maaf bahwa saya tidak bisa menjadi seperti yang kalian harapkan. Entah kenapa, saat mengetik posting ini pun, hati saya terenyuh. Ingin menangis, tapi tertahan.

Walalupun begitu, saya tetap dan terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Siapapun kalian yang membaca posting ini, saya memohon do'a kalian agar saya dapat konsisten dalam memperbaiki diri. Mohon maaf jika diri ini tidak bisa menjadi atau sesuai dengan harapan kalian, namun di balik semua itu...

"Kuhanya ingin tuk selalu menjadi... yang terbaik untukmu..." (Ecoutez)


Salam,


RAS

Kamis, 12 Juli 2018

Tentang Langit

Gambar diambil oleh Septina Restu Nurhalimah


Halo... Postingan kali ini dibuka dengan foto langit. Memang ada apa sih dengan langit? Ada awan, ada matahari, ada bintang, ada bulan, ada atmosfer, ada... Hehehe.

Oke, cukup berguraunya, sekarang saya mau sedikit serius tapi tetap santai kok *tebar senyum simpul*

Saya sangat suka dengan langit. Mengapa? Memang ada apa dengan langit? Karena di langit ada keindahan. Saya ralat, karena di langit ada berjuta keindahan *tebar senyum sambil menghela napas*

Sedari dulu saya suka menatap langit. Hobi itu dimulai ketika saya duduk di bangku SMP dan berlanjut sampai sekarang. Lagi sedih, menatap langit. Lagi lelah, menatap langit. Lagi senang, menatap langit. Lagi kesal, menatap langit. Lagi hampa, menatap langit. Lagi galau, menatap langit. Terlihat melankolis ya diri saya...

Kegiatan itu masih saya lakukan hingga sekarang, hanya ada sedikit perbedaan. Kalau dulu menatap langit hanya sekadar menatap, namun sekarang saya mulai belajar menafakuri keindahan langit. Kalau dulu, setiap melihat langit bawaannya mellow-mellow nggak jelas, namun sekarang setiap melihat langit saya berusaha mengaitkan pada pencipta-Nya. Kalau dulu menatap langit hanya sekadar pelepas penat, namun sekarang saya menatap langit sambil merefleksikan diri saya.

Refleksi? Bagaimana bisa? Memang langit seperti cermin?

Langit menjadi media refleksi diri bagi saya, selain cermin. Kalau dengan cermin, saya merefleksikan diri dalam lingkup kecil, maka dengan langit saya merefleksikan diri dalam lingkup yang lebih besar. Seberapa besar usaha saya menatap langit, saya tak pernah menemukan cacat pada langit. Paduan warna langit selalu indah. Menurut saya, itu lukisan terindah yang pernah saya lihat. Komposisi warnanya begitu proporsional.

Saya menemukan jawaban bahwa langit merupakan media refleksi diri saya ketika membaca terjemahan surat Al-Mulk ayat 3-4. Seberapa besar usaha kita melihat langit, kita tidak akan menemukan kecacatan dan akan kembali pada pandangan kita yang payah. Subhanalloh...

Betapa kecil diri saya, lemah, payah, tak berdaya, bahkan kekurangan-kekurangan lainnya yang ada pada diri saya - membuat saya sadar bahwa saya tak mampu melalui sesuatu sekecil apapun tanpa bantuan Sang Pencipta. Entah mengapa, melihat langit membuat saya merasa campur aduk. Bahagia, terharu, optimis, bersyukur, bahkan mengintrospeksi diri.

Saya rasa cukup hal-hal yang dibagikan. Tulisan ini hanya opini saya. Mohon maaf bila ada kata dan kalimat yang kurang berkenan.


Salam hangat,


RAS


Note: Gambar tersebut diambil pada tanggal 08 Juli 2018 di Ciomas, Bogor

Kamis, 21 Juni 2018

Sudut Pandang yang Berbeda

Maafkan saya baru menulis lagi di sini, namun sepertinya blog ini akan beralih fungsi sebagai wadah cerita saya. Oke, mari kita mulai (kita...? abaikan saja).

Saya baru saja merampungkan serial 11 bagian cerita yang cukup sukses membuat saya sampai terbawa mimpi mengenai alur ceritanya. Entah sebegitu besar terbawa cerita, tapi harus saya akui cerita itu cukup membawa pengaruh bagi saya.

Selama ini, kebanyakan saya menikmati cerita hanya dari sisi hiburan. Cerita itu bagus, lucu, menarik, dan seru, setidaknya memenuhi kriteria minimal itu sudah masuk kategori cerita yang menghibur untuk saya. Akan tetapi kali ini berbeda. Bahkan sampai sekarang saya masih berusaha mengingat terakhir kali menikmati cerita yang meninggalkan pesan mendalam dan cukup berperan pada pola pikir saya mengenai kehidupan. Serial 11 bagian itu sukses membuat saya seperti itu.

Secara keseluruhan ceritanya menarik, baik dari sisi pemeran utama maupun pemeran sampingan. Ada yang menarik dari cerita ini, yaitu kisah pemeran sampingan. Mungkin kebanyakan orang lebih cenderung mengulik kisah pemeran utama dibanding pemeran sampingan, namun sepertinya saya masuk dalam pengecualian. Hampir setiap menikmati cerita, saya lebih tertarik mengulik kisah pemeran samping yang jika diukur dari keseluruhan cerita hanya kisah selenting. Justru di situ keunikannya, karena selenting maka perlu dikulik.

Pemeran sampingan dalam serial tersebut wanita berusia dewasa, sukses berkarier, dan lajang. Dia gigih menjalani kehidupan sekaligus sebagai kompensasi atas dirinya yang masih melajang di usia yang memang tidak seharusnya begitu. Bahkan ada salah satu quote yang diucapkan pemeran ini. "Kehidupan tak selalu berjalan sesuai rencanamu".

Buat saya kalimat itu memiliki makna yang mendalam. Sederhana tapi kena. Melihat pemeran itu dan kisahnya, saya seperti bercermin bahwa itu diri saya. Entah, yang ada di pikiran saya saat itu menjadi wanita independen tak semudah yang saya kira. Segigih apapun dia menjalani kehidupan, tapi dia tak bisa menutup kesepian yang menghampiri dirinya. Iya, saya pernah berkata pada Ibu dan diri saya bahwa saya ingin menjadi wanita independen. Jika kalian bertanya apa sebabnya, tentu faktor eksternal yang belum bisa saya jelaskan di sini (mungkin lain waktu, namun entah kapan).

Kata Tante saya, kesepian itu pasti datang dan tak bisa dihindari. Maka dari itu, harus ada kompensasi untuk mengatasi kesepian itu. Dari cerita itu, saya berpikir bahwa sisi lain kehidupan adalah kompensasi.

Maafkan jika bahasan kali ini terlalu berat dan mendalam, namun memang itu yang ada di pikiran saya. Terima kasih bagi yang sudah membaca.


Salam
RAS

Selasa, 25 Juli 2017

Perubahan dalam Persamaan

"Sampai nanti... Sampai kita bertemu kembali..." - Kunto Aji (Mercusuar)

Tidak banyak perubahan saat saya memasuki tempat itu. Susunan yang dulu pernah saya ketahui, tidak berubah sedikit pun. Mereka masih dalam urutan yang sama.

Waktu mungkin berubah, begitu pun tokoh-tokohnya. Akan tetapi, tidak dengan bayangan di dalam pikiran saya. Mereka melintas bak dimensi waktu yang membawa saya kembali ke masa itu. Saya hanya berlalu. Logika saya tepatnya.

Saya tidak pernah tahu sesuatu yang terjadi dalam hidup saya di kemudian waktu. Saya tidak ingin memprediksi dan berusaha menjalani alur hidup. Jika saya diberi kesempatan, saya ingin meluruskan dan memperbaiki semuanya (red: salah paham yang sempat terjadi). Semoga sepenggal lirik yang menjadi pembuka menjadi kenyataan. Saya percaya di setiap perpisahan ada pertemuan (lagi).

Minggu, 16 Juli 2017

Jatuh Cinta Pada Karakter

Jatuh cinta pada pandangan pertama itu sudah biasa. Bagaimana dengan jatuh cinta pada karakter? Bisakah mengganti 'pandangan' dengan 'karakter'?

Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis mengetik ini, namun setiap membuka netbook mengingatkan saya dengan tugas akhir. Bukan menulis mengetik, malah jadi menangis.

Tujuan awal menulis ini sekadar melepas 'uneg-uneg' di hati, kemudian berkembang menjadi sebuah-tulisan-semi-serius. Sebenarnya ingin berbagi juga sih.

Jatuh cinta pada karakter. Entah saya sudah mengalami berapa kali kejadian itu. Menurut saya, jatuh cinta pada karakter tidak jauh berbeda dengan jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya saja cinta pada karakter menitikberatkan karakter (juga kepribadian) yang menjadi sebab utama, rupa sebab ke-sekian.

Saya lebih bayak dan (cukup) sering mengalami jatuh cinta karena karakter. Jika ditanya sebabnya, saya pun bingung menjawabnya. Mungkin, karakter menjadi nilai lebih bagi saya.

Saya pernah jatuh cinta dengan orang yang secara fisik (rupa) biasa saja, namun karakternya cukup menyita perhatian saya. Gambar di bawah ini (mungkin) bisa menjelaskan sebabnya...

Foto Typewriters voice.
Sumber: Facebook Typewriter Voice

Sabtu, 12 November 2016

Keikhlasan Untuk Kemajuan

 "Pada akhirnya, keikhlasan yang dibutuhkan dalam melakukan apapun. Apapun itu."
Sekuat apapun berusaha, rasanya jika tidak diiringi dengan keikhlasan - ibarat  sedang mengunduh file, kemudian gagal saat progressnya sudah mencapai 99%. Bagaimana rasanya? Jleb. Kesal. Kecewa. Sedih. Campur aduk. Ya, begitu jika tidak diiringi dengan keikhlasan. Pada akhirnya, keikhlasan yang membuat perasaan lebih lega, lepas, dan mengalir.

Bicara soal keikhlasan, bukan perkara seperti perkataan
"Saya ikhlas kok."
bukan juga seperti
"Ikhlaskan saja. Saya yakin akan dapat yang lebih baik."
Big no! 

Ikhlas itu perkara dari hati nurani terdalam. Hati nurani yang paling jujur.

Sudahkan bertanya pada diri masing-masing? Sudahkah bertanya pada nurani?

Ikhlas tak bisa dinilai dan diukur dengan ucapan bahkan perbuatan. Ikhlas dapat diukur dengan mempertanyakan nurani masing-masing. Sudahkah ikhlas? Sudahkah benar-benar ikhlas? Jawabannya hanya nurani masing-masing yang tahu.

Mengapa nurani yang harus dipertanyakan? Karena kejujuran paling jujur datang dari nurani.

Ikhlas datang dari niat dalam nurani. Ikhlas memang butuh pengorbanan yang (cukup) besar. Prosesnya memang seperti itu. (Cukup) pahit. Menghela nafas. Menangis. Terjatuh. Terseret. Tertatih. Di balik pedihnya proses tersebut, sebenarnya terdapat salah satu cara mendewasakan diri. Ya, pendewasaan diri untuk kemajuan diri. Melalui ikhlas, banyak yang dapat dipelajari, seperti melepas sesuatu (apapun) yang diinginkan, namun tak mampu untuk digapai.

Hidup tak selalu melulu soal apa yang diinginkan. Kadang, sesuatu yang diinginkan dapat digapai. Namun, ada kalanya sesuatu yang diinginkan tidak dapat digapai karena keterbatasan, baik secara internal dan/atau eksternal. Lewat keikhlasan, Sang Khaliq ingin dipercaya bahwa rencana yang telah dipersiapkan-Nya untuk masing-masing individu merupakan rencana terindah dan terbaik. Lewat keikhlasan, Sang Khaliq ingin menyampaikan bahwa Dia yang paling mengetahui sesuatu yang terbaik, terindah, sekaligus yang dibutuhkan masing-masing diri.Dia hanya meminta masing-masing diri percaya bahwa Dia tidak akan memberikan sesuatu yang buruk untuk umat-Nya. Dia hanya meminta masing-masing diri percaya dan ikhlas pada ketentuan-Nya.

Senin, 24 Oktober 2016

Sekadar Menumpahkan Kejenuhan

"Minggu ketiga bulan November siap maju ya..."
Reaksi saya mendengar kata-kata seperti itu...? Jangan tanya. PANIK. Hahaha...

Stress... Proposal itu belum saya 'jenguk'. Iya, sama sekali. Penyebabnya? Saya harus putar arah jenis penelitian saya. Awalnya saya merencanakan akan menjalankan penelitian kuantitatif - bahkan sudah sampai tahap meyakinkan diri. Yakin.

Pada saat konsultasi, dengan percaya diri saya ajukan ide penelitian saya dihadapan dosen. Pas ditanya,
"Terus, tindak lanjut kamu apa?"
Saya langsung diam. Dengan polos saya menjawab,
"Sejauh ini belum tahu, Bu. Hehehe..."
Alhamdulillaah, dosen pembimbing saya sabar menghadapi mahasiswi bimbingannya, terutama jenis yang seperti saya (?).
"Ya sudah, sekarang coba kamu pikirkan matang-matang ya, konsep dan arah penelitian kamu ke mana. Ibu kasih waktu sebulan. Bisa kan?"
Tidak ada jawaban lain, selain IYA. Akhirnya, saya mengiyakan, dengan segenap keyakinan ditambah sedikit keragu-raguan.

Percakapan itu terjadi sudah hampir sebulan. Kalau ada yang bertanya,
"Sudah matang belum konsep dan arahnya?"
Wah, bukan matang lagi. Over cook. Hahaha...

Seharusnya saya mulai menulis proposal, tapi... malah mood menulis blog. Ya, maafkan hamba yang sedang jenuh. Ampuni hamba yang tidak bisa menahan keinginan meng-update blog, sehingga terlihat lebih peduli terhadap blog dibandingkan proposal.

*Ps: Teruntuk dosen pembimbing, saya akan mengerjakan proposal saya, Bu. Absolutely. Hanya butuh waktu dan suasana yang tepat. Dan saya sedang mencari itu.

Senin, 27 Juni 2016

Dilema: Tentang Impian Terpendam

Lama rasanya tak menulis. Ya, menuliskan keresahan-keresahan yang ada pada diri. Entah, saya harus memulai dari mana, karena terlalu banyak keresahan yang saya rasakan.

Kalau saya dihadapkan pada dua pilihan, di mana salah satu dari pilihan tersebut ialah musik dan saya diharuskan memilih, maka jawabannya ialah saya tidak bisa memilih. Kenapa? Butuh penjelasan yang cukup panjang dan saya akan menjelaskannya.

Musik sempat menjadi bagian yang cukup penting dalam hidup saya sebelum saya seperti sekarang. Lantas, bagaimana dengan sekarang? Musik masih menjadi bagian hidup saya, walaupun tidak sepenting dulu. Kalau bicara soal musik, saya teringat dengan kutipan yang pernah dikirimkan seseorang kepada saya – yang membuat saya cukup tertohok.

Tak bisa saya pungkiri, bahwa… saya tak bisa mengelak  musik telah menjadi bagian hidup saya. Maafkan saya … Maafkan atas ketidaksiapan saya dengan segala komitmen yang telah saya buat, salah satunya berhijrah dari musik. Maafkan saya yang kembali mendengarkan musik. Maafkan…

Jauh sebelum saya memutuskan seperti sekarang, saya memiliki satu impian terpendam. Berkarier dalam bidang seni, terutama musik. Akan tetapi saya sadar, dengan penampilan saya sekarang, rasanya tak mungkin menggapai impian terpendam itu.

Biarlah… Biarkan saya mengubur impian itu sampai serpihan-serpihannya. Impian itu tetap menjadi bagian dari hidup saya, walaupun tak bisa saya gapai. Hidup tak melulu sesuai apa yang dicita-citakan. Hidup berjalan sesuai takdir dan kehendak-Nya. Apapun yang telah dipersiapkan-Nya – percayalah, itu yang terbaik dan ideal untuk kita.

Jumat, 03 Juni 2016

Mengenang (di sela) Begadang

Kronologi hari ini yang membuat saya menorehkan rangkaian kalimat di sini...

Akses internet ---> Online media sosial ---> Lihat timeline ---> ... ---> Menatap gambar

Seorang teman SMA meng-upload sebuah gambar di media sosial mengenai pra-rencana hidupnya. Entah mengapa saya teringat teman semasa SMP dulu. Sewaktu SMA, saya dan dia bisa dibilang masih rajin berkomunikasi, walalupun kami berada di SMA yang beda. Pun sekarang, saya dengan dia kuliah di tempat, negara, bahkan benua yang beda. Namun, komunikasi saya dengan dia sudah jarang, bahkan hampir tidak pernah. Terakhir komunikasi ketika saya semester 2 (kalau tidak salah). Sekarang, saya sudah berkutat dengan kesibukan sendiri, pun demikian dia.

Seandainya saya diberi waktu berkomunikasi, hanya ingin menyampaikan...

"Masih ingat si 'itu' nggak? Dia mau nikah lho dengan calon tunangan dan istrinya..."

Jumat, 13 Mei 2016

Waktu (yang) Menjawab

Sudah lama juga tak menulis mengetik di sini. Hari ini, saya menyempatkan (sedikit) waktu untuk menuangkan apa yang ada di pikiran saya.

Berawal dari kejadian beberapa waktu lalu. Singkat cerita, saya membuka salah satu akun media sosial. Kemudian, saya memeriksa notifikasi media sosial tersebut. Apa yang saya dapat? Jawaban. Iya, sebuah jawaban.

Sejujurnya, saya (sudah) tidak mengharapkan jawaban itu. Mengapa? Karena... Secara logika, (hampir) tidak ada komunikasi. Jadi, (jawaban) apa yang harus saya harapkan? Biar saja waktu yang menjawab. And it has proved. Time has answered it.

Lalu, bagaimana selanjutnya? Entahlah... Biarkan waktu yang menjawab.

Saya yakin jawaban terindah ialah jawaban yang dikirim oleh-Nya melalui waktu-Nya.

Minggu, 04 Januari 2015

Akhir Tahun = Akhir Kehidupan?

"Bisa jadi akhir tahun adalah akhir perjalanan kehidupan kita. Ya, siapa yang tahu, kecuali Allah SWT."
31 Desember merupakan penghujung tahun - penutup tahun tersebut, lorong waktu yang membawa ke tahun yang akan datang, atau sebut saja gerbang penutup dan pembuka. 31 Desember identik dengan perayaan besar yang dialibikan sebagai ekspresi sukacita menyambut tahun baru yang lebih baik. Ada yang salah? Tidak, tidak ada yang yang salah bagi orang yang memilih jalan ini, namun beberapa orang tak sejalan dengan pilihan tersebut salah satunya saya.

Bukan berarti saya anti atau menentang perayaan tersebut, hanya saja saya berusaha menyikapi euforia pergantian tahun ini dengan bijak. Bukan berarti juga saya tidak pernah merayakan dan merasakan euforia pergantian tahun, namun saat ini dan seterusnya saya memilih untuk bersikap biasa saja menyikapi moment tersebut. Tentu bukan tanpa alasan saya memilih bersikap seperti ini, Ada alasan mendasar saya memilih jalan tersebut. Pertama, perayaan tersebut tidak ada dalam ajaran agama yang saya anut. Kedua, siapa yang tahu saat itu adalah hari terakhir di dunia? Siapa yang bisa menjamin, kecuali Allah SWT.

Sabtu, 15 November 2014

Pertemuan

Tuhan mempertemukan kita dalam berbagai keadaan. Setidaknya (mungkin) ada tiga keadaan sesuai yang saya tangkap dan alami.
  1. Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan sadar.
  2. Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan sadar namun hanya salah satu di antara kita yang menyadari.
  3. Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan tidak sadar melainkan orang lain yang sadar akan pertemuan tersebut.
Terlepas dari apapun keadaannya, saya percaya dan yakin bahwa pertemuan tersebut bukan karena kebetulan semata. Pertemuan itu sudah ada yang mengatur - Sang Pencipta dan Penguasa Alam Semesta.

Sabtu, 27 September 2014

(Bukan) Sebuah Rencana

Malam ini... cukup berbeda. Versi saya.

Tiba-tiba saya berpikir apa yang saya alami dan lalui tidak seratus persen rencana saya, bahkan di luar keinginan saya. Semua yang terjadi dalam hidup saya, apapun itu, saya yakin ada campur tangan Sang Pencipta, Allah SWT. Termasuk yang saya alami saat ini.

Bagaimana saya harus memulai cerita ini? Baiklah, saya tidak akan menceritakan secara detail karena ada beberapa bagian yang tidak bisa saya tuliskan di sini.

Pertemuan. Satu kata yang berasal dari kata dasar temu. Saya tidak pernah mengira, bahkan merencanakan akan bertemu dengan siapa dalam hidup saya. Mungkin saya bisa merencanakan hidup - cita-cita dan yang harus saya lakukan di masa depan - baik jangka pendek, maupun jangka panjang. Tapi tidak dengan pertemuan. Untuk hal yang satu itu, saya memilih prinsip menjalani apa yang ada, karena menurut saya merencanakan dengan siapa kita akan bertemu itu sesuatu yang sulit.

Saya tidak pernah menyangka, ketika saya berada di jenjang pendidikan tertinggi yang saat ini saya jalani, saya bertemu dengan berbagai macam orang yang memiliki kepribadian dengan ciri khas masing-masing. Termasuk orang yang satu ini. Pertemuan saya dengan orang ini benar-benar di luar rencana saya. Lagipula, saya setiap orang yang saya temui itu benar-benar tidak terlepas dari peran dan rencana Allah SWT. Maa syaa Allah.

Ternyata kesan dan penilaian pertama tidak selalu jadi acuan untuk menilai kepribadian seseorang. Pernyataan tersebut mematahkan prinsip saya terdahulu bahwa kesan dan penilaian pertama merupakan acuan berubah menjadi kesan dan penilaian pertama itu penting. Awalnya, saya merasa (entah) beruntung juga (entah) sial bertemu dengan orang ini. Ada satu hal yang membuat saya merasa... Entah, saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya saat itu. Mungkin semua perasaan menjadi satu, campur aduk. Satu hal yang membuat saya bertahan. Mau tidak mau harus saya jalani. Ini rencana Allah SWT. Dia tahu yang terbaik untuk saya. Waktu terus berjalan hingga akhirnya saya berada di 'titik balik' yang membuat saya bertanya pada diri saya, "Benarkah?". Bahkan sampai saat ini, kadang pertanyaan tersebut masih bermunculan di lubuk hati. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya saya berpikir bahwa ini jalan yang harus saya lalui. Soal pertemuan itu di luar kehendak saya.

Apapun yang terjadi, khususnya pertemuan itu, bukan rencana saya. Saya yakin pertemuan itu membawa hikmah dalam hidup saya. Hikmah yang belum saya ketahui dan saya yakin hikmah tersebut baik untuk saya. In syaa Allah.

Rabu, 13 Agustus 2014

Rindu Ada Di Sini

Jika kau bertanya...
"Di mana Rindu? Ke mana dia pergi?"
Maka aku akan menjawab...
"Dia ada di sini. Rindu ada di sini."
...
 
Rindu tak pernah pergi, dia akan selalu ada di sini
Di mana?
Rindu akan selalu ada di dalam diri seseorang yang sedang merasakannya
Kapan dia datang?
Tak menentu, sesuai kehendaknya
Lalu, bagaimana jika dia datang?
Hadapi saja sewajarnya, tak perlu panik dan takut berlebihan
Jika dia datang, apa yang akan dia lakukan?
Dia hanya ingin bermain dan mengunjungimu sebentar
Tapi, mengapa harus aku yang didatanginya?
Karena dia tahu ke mana dia harus datang



a sunny day

Selasa, 05 Agustus 2014

Rindu Pelangiku Datang Lagi

Masih ingat dengan postingan Pelangi?

Saya rindu...

Ya, rindu pelangi itu datang lagi. Pelangi yang datang ketika saya menahan tangis (setelah sempat meneteskan setitik air mata). Pelangi yang datang di hari terakhir saya melihatnya. Pelangi yang datang saat saya menyadari yang sesungguhnya.

Kini, pelangi itu belum terlihat lagi setelah menampakkan wujudnya awal tahun silam.

Lalu, kapan saya bisa melihat - bahkan bertemu - dengan pelangi itu? Saya rindu...

"Rindu pelangiku datang lagi..." (Sherina - Pelangiku)

Senin, 04 Agustus 2014

Rindu Jadi Pelajar

"Bagaimana rasanya menjadi pelajar? Sepertinya saya sudah lupa."

...

Petikan kalimat diatas hanya 'perumpamaan' saja. Setahun yang lalu saya masih merasakan manis, asam, asin, dan pahitnya jadi pelajar. Rasanya mirip sama permen yang itu tuh. Hehehe.

Terkadang, saya merindukan masa-masa menjadi pelajar. Ini berawal ketika  - tadi - saya mengunjungi Plasa Pondok Gede, tempat hang out ter-heitz semasa SMA.

"Mau hang out, Rei?"

...

Bukan... saya bukan ke Plasanya kok. Bukan untuk hang out juga, Alhamdulillah (walaupun awalnya ada sedikit niatan untuk membeli makanan). Saya ke pertokoan yang ada di area Plasa tersebut, tepatnya ke toko buku untuk mencari buku adik saya yang duduk dibangku sekolah dasar. Pertama kali membuka pintu toko buku, atmosfer buku pelajaran 'tercium'. Ini mengingatkan saya ketika masih menjadi pelajar dulu. Rindunya, maa syaa Allah. Setelah beberapa saat mengitari toko buku tersebut, buku yang saya temukan untuk jenjang pendidikan tertinggi adalah SMA. Kok tidak ada buku untuk jenjang universitas ya? Tentu saja, karena yang saya kunjungi toko buku pelajaran, bukan toko buku perkuliahan.

...Apaan sih Rei...

Sudahlah. Inti dari tulisan saya kali ini adalah...

"Saya rindu jadi pelajar."

Rindu hanyalah rindu. Hanya sekadar rasa dan belum tentu dapat diulang kejadiannya. Yang terpenting saya harus semangat untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Masa depan yang telah Allah SWT dan saya harus menjemputnya. Aamiin.