Sometimes, you will feel that you're really missing someone - anyone - it could be your family, your friends, your best friends, until your ya-you-know-that. When you've known there's no change with the person that you missed, it's okay. There's no problem. But, how is the distance? Are you sure that you still said "I'm fine. I'm okay. And there's no problem."? Maybe yes or maybe no. It's depend on yourself.
Selamat datang di blogku... Ini ceritaku, inspirasiku, dan tentang segala sesuatu yang kutulis... Selamat membaca!
Jumat, 30 Agustus 2013
Sabtu, 10 Agustus 2013
Tentang Langit
Prolog dulu ya...
Ehm, jadi begini saudara-saudara... Sebenarnya yang akan saya post kali ini adalah sebuah puisi. Nah, puisi ini saya re-post. Lho? Kok re-post? Iya, karena sebelumnya sudah pernah saya post. Tepatnya sebelum saya punya blog, hihihi.
Puisi ini saya ambil dari notes di facebook saya. Setelah saya baca kembali, saya sadar kata-katanya bermakna dalam dibanding puisi yang selama ini pure saya posting di blog. Hahaha.
Langsung saja kita simak... Ini dia puisinya...
Ketika kamu mendapatkan suatu kebahagian
Maka kamu seakan berada di langit tertinggi
Ketika kamu mendapatkan apa yang orang lain tidak bisa
Maka kamu seakan peri penolong bergaun putih
Namun ketika deburan ombak menghempas perlahan
Kamu tetap berusaha tegar tanpa menitikkan air mata
Berusaha bangkit seakan tak terjadi apa-apa
Tak melihat siapa atau apapun kamu terus melangkah
Tapi saat ombak laut menghempas segalanya tanpa tersisa
Seperti kilatan cahaya api
Kamu merasakan berada jauh berada di dalam
Tak tersisa sedikitpun air matamu jatuh perlahan
Akhirnya kamu mulai berpikir
Menganggap bintang harapanmu telah sirna
Kini yang tersisa hanyalah langit, awan, dan senja
Dan kamu mulai memilih
Sadarkah kamu bahwa mereka itu sama
Langit, awan, dan senja
Berbeda tapi sama
Hanya wujud yang membedakan
Kamu berpikir lagi
Menelaah keadaan
Lagit, awan, dan senja
Kamu sadar mereka sama
Seperti langit, cerah namun ada kalanya gelap
Seperti awan, putih namun menghitam
Seperti senja, bersinar lalu tenggelam
Hanya bintang yang tak pernah sirna
Itu semua hanya ada dalam pikiranmu
Sesungguhnya tak pernah gelap, hitam, atau tenggelam
Yang ada hanya fatamorgana dalam pikiranmu
Dan sungguh, bintang harapanmu tetap ada, takkan pernah sirna
Maka kamu seakan berada di langit tertinggi
Ketika kamu mendapatkan apa yang orang lain tidak bisa
Maka kamu seakan peri penolong bergaun putih
Namun ketika deburan ombak menghempas perlahan
Kamu tetap berusaha tegar tanpa menitikkan air mata
Berusaha bangkit seakan tak terjadi apa-apa
Tak melihat siapa atau apapun kamu terus melangkah
Tapi saat ombak laut menghempas segalanya tanpa tersisa
Seperti kilatan cahaya api
Kamu merasakan berada jauh berada di dalam
Tak tersisa sedikitpun air matamu jatuh perlahan
Akhirnya kamu mulai berpikir
Menganggap bintang harapanmu telah sirna
Kini yang tersisa hanyalah langit, awan, dan senja
Dan kamu mulai memilih
Sadarkah kamu bahwa mereka itu sama
Langit, awan, dan senja
Berbeda tapi sama
Hanya wujud yang membedakan
Kamu berpikir lagi
Menelaah keadaan
Lagit, awan, dan senja
Kamu sadar mereka sama
Seperti langit, cerah namun ada kalanya gelap
Seperti awan, putih namun menghitam
Seperti senja, bersinar lalu tenggelam
Hanya bintang yang tak pernah sirna
Itu semua hanya ada dalam pikiranmu
Sesungguhnya tak pernah gelap, hitam, atau tenggelam
Yang ada hanya fatamorgana dalam pikiranmu
Dan sungguh, bintang harapanmu tetap ada, takkan pernah sirna
Kamis, 08 Agustus 2013
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Apa kabar para pembaca blog? *serasa punya pembaca ya wkwkwk*
Alhamdulillah, akhirnya tiba juga hari kemenangan yang dinantikan. Gema takbir berkumandang di mana-mana. Subhanallah o:)
Ini adalah postingan yang saya tulis di malam takbiran. Setidaknya ini adalah kegiatan saya daripada berdiam diri, hahaha.
Nah, sekalian nih saya mau membahas tentang tradisi bermaaf-maafan yang biasa dilakukan nih.
Hm, kalau menurut saya sih, tradisi bermaaf-maafan itu lebih bermakna ketika kita mengucapkan kata maaf langsung kepada orang yang dituju. Kenapa? Menurut saya sih, karena bisa diungkapkan lebih luas dengan kata-kata dibandingkan lewat tulisan (via SMS, BBM, Twitter, Facebook, dan Social Media lainnya). Kadang tak semua hal bisa diungkapkan lewat tulisan. Ada alasan lain juga sih kenapa saya berpendapat kalau tradisi bermaaf-maafan lebih bermakna lewat omongan dibandingkan lewat tulisan. Alasannya itu adalah... *jeng jeng jeng* cukup repot dan lelah mengetiknya, hahaha. Tapi itu bukan alasan utama sih. Alasan utamanya itu, menurut saya, ya kita lega memohon maaf dengan cara berbicara langsung dengan orang yang dituju.
Hm, sepertinya sudah tidak ada lagi yang akan saya tulis...
Ah, anyway, ini adalah lebaran pertama saya tanpa kakek saya. Ya, rasanya ada yang janggal sih. Saya berharap semoga saya bisa dan kuat menjalani serta melaluinya. Aamiin.
Okay, now it's time for me to say...
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN \^o^/v
Selasa, 30 Juli 2013
Benarkah?
Hem, mungkin ini adalah posting random yang pernah saya tulis...
Hari ini saya (sempat) berbahagia. Sederhana sih. Tapi semua itu berubah sejak tadi. Iya... Ya, ada sesuatu yang membuat saya agak tercengang. Saya yakin sesuatu yang saya maksud itu ulah orang yang tidak bertanggung jawab. Mungkin. Mungkin iya. Mungkin juga tidak.
Entahlah... Yang tahu kebenarannya hanya Yang Maha Benar. Saya hanya bisa berharap, mudah-mudahan sesuatu itu tidak benar.
Hari ini saya (sempat) berbahagia. Sederhana sih. Tapi semua itu berubah sejak tadi. Iya... Ya, ada sesuatu yang membuat saya agak tercengang. Saya yakin sesuatu yang saya maksud itu ulah orang yang tidak bertanggung jawab. Mungkin. Mungkin iya. Mungkin juga tidak.
Entahlah... Yang tahu kebenarannya hanya Yang Maha Benar. Saya hanya bisa berharap, mudah-mudahan sesuatu itu tidak benar.
Sabtu, 27 Juli 2013
Bintang Kejora
Tepat hari ini kami - aku dan teman-temanku - merayakan hari jadi teman kami, Bintang. Nama lengkapnya Bintang Kejora. Perempuan yang memiliki kepribadian yang baik. Ramah, rendah hati, periang, dan tak pernah putus asa, itu sebagian kata sifat yang bisa mewakili untuk mendeskripsikannya.
Teras cafe yang cukup luas menjadi tempat berkumpulnya kami, para tamu undangan pesta ulang tahun Bintang. Gelak tawa memenuhi teras cafe. Sementara Bintang memisahkan diri dari kami. Dia berdiri di pojok teras. Tak seharusnya tuan pesta menyendiri seperti itu, pikirku. Aku memutuskan untuk keluar dari kerumunan dan menghampirinya.
Dia sadar akan kehadiranku menghampirinya. Dia hanya tersenyum seraya menatap setengah putus asa ke langit.
"Vir," Bintang menyapaku membuka pembicaraan. "Kamu percaya bahwa takdir itu bisa diubah?"
Pertanyaan yang cukup membuatku terkejut. Apa maksudnya dia bertanya seperti itu.
"Aku percaya," jawabnya tanpa menunggu jawabanku. "Aku percaya bahwa takdir bisa diubah, tapi ada pengecualian."
Kali ini aku menanggapi perkataannya. "Pengecualian? Apa?"
"Kematian," jawabnya singkat. "Kita tak pernah tahu kapan kita akan mati."
"Kenapa kamu ngomong begitu, Bin?"
"Mereka yang di sana," katanya seraya menunjuk kerumunan orang yang berada di teras cafe. "Mereka nggak pernah tau keadaanku sebenarnya seperti apa. Aku hanya cerita ini ke kamu, Vir."
Aku hanya terdiam mendengar setiap perkataan Bintang. Responku juga hanya menganggukkan kepala.
"Dari kecil aku nggak pernah mengeluh apapun, bahkan rasa sakit yang aku rasakan. Ketika aku berumur 15 tahun, aku menjalani medical check up, dan ternyata aku baru tahu kalau ternyata aku positif mengidap kanker. Saat itu aku benar-benar shock, bahkan aku bingung bagaimana aku memberitahukan hal itu kepada orang tuaku." Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkannya lagi. "Sekitar 3 bulan kemudian, orang tuaku baru tahu penyakit yang kuderita. Sama sepertiku, mereka juga shock mendengarnya. Tapi, akhirnya mereka bisa menerima kenyataan dan terus berusaha untuk menyembuhkan penyakitku. . Aku dan orag tuaku bersaha keras untuk lepas dari penyakit ini, namun pada akhirnya dokter menyerah dan memvonis kalau hidupku tidak lama lagi."
Aku terkejut dan terenyuh mendengar cerita Bintang. Aku menepuk bahunya, isyarat memberi motivasi untuknya.
Dia tersenyum. Tapi aku tau dibalik senyumnya itu ada rasa sedih yang mendalam. Belum pernah aku melihat Bintang seperti ini. Melihat sosok Bintang yang sebenarnya.
"Aku memang pesimis saat mendengar dokter memvonisku seperti itu. Tapi, bagaimanapun aku harus siap. Karena kematian itu pasti akan datang."
"Kamu pasti bisa kok lepas dari penyakit itu." Aku spontan mengeluarkan kalimat tersebut kepada Bintang.
Dia tersenyum lagi. "Iya, aku juga ingin lepas dari penyakit itu dan aku juga terus berusaha. Tapi kalau memang ajal menjemputku, aku hanya minta satu," katanya menghela napas. "Aku ingin seperti bintang. Sesuai dengan namaku, aku ingin terus menerangi kalian walau harus mengorbankan diriku. Walau telah tiada, aku ingin dikenang orang banyak."
Senin, 08 Juli 2013
Dua Sisi dalam Satu Dimensi
Keren nggak tuh judulnya? Wkwkwk
Hai hai hai... kali ini saya akan menghadirkan sensasi baru dalam postingan kali ini. Sensasi yang membuat kalian lebih... greget. Hahaha.
Nggak kok, nggak over seperti yang kalian bayangkan. Bedanya sih posting kali ini ada prolognya aja. Biasanya kan kalau memposting puisi langsung tanpa disertai prolog. Nah, kali ini saya hadirkan prolognya.
Oke, langsung aja deh ke pusinya. Oh iya, puisi ini terinspirasi dari berbagai kejadian yang saya alami hari ini. Selamat membaca :)
Hidup itu bagaikan rodaKadang di atasKadang pula di bawahNamun tak ada yang tahu kapan dan di mana kita beradaHidup itu bak permainanAda yang menangBegitupun ada yang kalahTapi tak ada yang tahu kita jatuh pada pilihan yang manaHidup itu rangkaian ekspresiAda senang dan tawaDuka dan tangisLagi-lagi kita tak tahu pada pilihan mana kita ditempatkanSemuanya berpasanganSemuanya berlawananDua sisi berbedaDitempatkan dalam satu dimensi
Sabtu, 29 Juni 2013
Pertemuan Sejengkal dengan Tempat dan Perpisahan
Sepertinya mood saya untuk menulis sedang baik...
Kadang hal yang nggak pernah kita sangka itu terjadi dekat dengan kita. Contohnya? Nggak perlu mikir yang jauh-jauh, ketika kita ditakdirkan untuk satu tempat dengan seseorang tapi kita tidak bertemu dengan orang tersebut. Kecewa? Agaknya sih begitu. Apalagi kalau kita sadar keesokan harinya. Ya, begitulah. Kadang hidup tak semulus yang kita kira.
Pertemuan sejengkal dengan tempat dan perpisahan. Ya, begitulah. Perpisahan adalah hal yang meyedihkan bahkan mungkin menyakitkan dengan alasan kita berpisah - takkan bertemu lagi dengan orang-orang yang dekat di sekitar kita. Tapi sepertinya ada lagi yang lebih menyedihkan dari perpisahan. Pertemuan sejengkal tempat yang tak kita sadari. Ditambah kita mengetahui dan menyadari itu keesokan hari.
Mungkin pertemuan hanya mempunyai sekat sejengkal dengan perpisahan. Saat kita mengira perpisahan adalah waktu terakhir untuk bertemu dengan seseorang, bisa jadi itu bukan benar-benar yang terakhir. Bisa saja pertemuan setalah perpisahan itu adalah waktu terakhir kita bertemu dengan seseorang itu. Entahlah, hanya Allah yang tahu. Wallahualam.
Langganan:
Postingan (Atom)