Rabu, 19 April 2017

Mengapa Aku (yang) Jatuh Cinta?

"Mengapa aku (yang) jatuh cinta?"
Aku menghela nafasku
Menahan (rasa) sakitku
Mengubahnya dalam senyum

Sering aku berpikir,
kau yang curang
Selalu memulainya,
kemudian mengakhiri
Seolah kau tak pernah memulai

Bahkan saat ini,
pun aku bertanya
"Apa hanya aku yang jatuh cinta?
Bagaimana denganmu?
Apa kau (juga) jatuh cinta?"

Sabtu, 12 November 2016

Keikhlasan Untuk Kemajuan

 "Pada akhirnya, keikhlasan yang dibutuhkan dalam melakukan apapun. Apapun itu."
Sekuat apapun berusaha, rasanya jika tidak diiringi dengan keikhlasan - ibarat  sedang mengunduh file, kemudian gagal saat progressnya sudah mencapai 99%. Bagaimana rasanya? Jleb. Kesal. Kecewa. Sedih. Campur aduk. Ya, begitu jika tidak diiringi dengan keikhlasan. Pada akhirnya, keikhlasan yang membuat perasaan lebih lega, lepas, dan mengalir.

Bicara soal keikhlasan, bukan perkara seperti perkataan
"Saya ikhlas kok."
bukan juga seperti
"Ikhlaskan saja. Saya yakin akan dapat yang lebih baik."
Big no! 

Ikhlas itu perkara dari hati nurani terdalam. Hati nurani yang paling jujur.

Sudahkan bertanya pada diri masing-masing? Sudahkah bertanya pada nurani?

Ikhlas tak bisa dinilai dan diukur dengan ucapan bahkan perbuatan. Ikhlas dapat diukur dengan mempertanyakan nurani masing-masing. Sudahkah ikhlas? Sudahkah benar-benar ikhlas? Jawabannya hanya nurani masing-masing yang tahu.

Mengapa nurani yang harus dipertanyakan? Karena kejujuran paling jujur datang dari nurani.

Ikhlas datang dari niat dalam nurani. Ikhlas memang butuh pengorbanan yang (cukup) besar. Prosesnya memang seperti itu. (Cukup) pahit. Menghela nafas. Menangis. Terjatuh. Terseret. Tertatih. Di balik pedihnya proses tersebut, sebenarnya terdapat salah satu cara mendewasakan diri. Ya, pendewasaan diri untuk kemajuan diri. Melalui ikhlas, banyak yang dapat dipelajari, seperti melepas sesuatu (apapun) yang diinginkan, namun tak mampu untuk digapai.

Hidup tak selalu melulu soal apa yang diinginkan. Kadang, sesuatu yang diinginkan dapat digapai. Namun, ada kalanya sesuatu yang diinginkan tidak dapat digapai karena keterbatasan, baik secara internal dan/atau eksternal. Lewat keikhlasan, Sang Khaliq ingin dipercaya bahwa rencana yang telah dipersiapkan-Nya untuk masing-masing individu merupakan rencana terindah dan terbaik. Lewat keikhlasan, Sang Khaliq ingin menyampaikan bahwa Dia yang paling mengetahui sesuatu yang terbaik, terindah, sekaligus yang dibutuhkan masing-masing diri.Dia hanya meminta masing-masing diri percaya bahwa Dia tidak akan memberikan sesuatu yang buruk untuk umat-Nya. Dia hanya meminta masing-masing diri percaya dan ikhlas pada ketentuan-Nya.

Kejujuran

Terselip diam
Di antara maaf
yang kita ucapkan
Di antara jeda
suaraku dan suaramu
Di sudut ruangan
di dalam ruangan

Terselip kejujuran
Di antara diamku
dan ketidaksadaranmu
Terselip rasa penasaran
Di antara beribu pertanyaan
dalam benakku

Benarkah, dirimu
milik perempuan
yang terpajang
di layar pelindungmu?

Jawabnya pun tak tahu
Jawabnya terselip
dalam kejujuran
di hatimu

Senin, 07 November 2016

Kenangan

Selalu ada kenangan
Di setiap bait
Bahkan baris lirik
yang kau tulis

Ia selalu ada
Kembali ada
Saat lirik itu kau nyanyikan

Ia selalu hadir
Walau kau tak di sini
Walau tak selalu di tempat yang sama

Ia akan selalu ada
Hadir
Walau entah kapan
Kau benar-benar hadir


Ps. Dibuat menjelang ujian PKM. Sekadar melepas lelah-yang-tak-dapat-dijelaskan.

Senin, 24 Oktober 2016

Sekadar Menumpahkan Kejenuhan

"Minggu ketiga bulan November siap maju ya..."
Reaksi saya mendengar kata-kata seperti itu...? Jangan tanya. PANIK. Hahaha...

Stress... Proposal itu belum saya 'jenguk'. Iya, sama sekali. Penyebabnya? Saya harus putar arah jenis penelitian saya. Awalnya saya merencanakan akan menjalankan penelitian kuantitatif - bahkan sudah sampai tahap meyakinkan diri. Yakin.

Pada saat konsultasi, dengan percaya diri saya ajukan ide penelitian saya dihadapan dosen. Pas ditanya,
"Terus, tindak lanjut kamu apa?"
Saya langsung diam. Dengan polos saya menjawab,
"Sejauh ini belum tahu, Bu. Hehehe..."
Alhamdulillaah, dosen pembimbing saya sabar menghadapi mahasiswi bimbingannya, terutama jenis yang seperti saya (?).
"Ya sudah, sekarang coba kamu pikirkan matang-matang ya, konsep dan arah penelitian kamu ke mana. Ibu kasih waktu sebulan. Bisa kan?"
Tidak ada jawaban lain, selain IYA. Akhirnya, saya mengiyakan, dengan segenap keyakinan ditambah sedikit keragu-raguan.

Percakapan itu terjadi sudah hampir sebulan. Kalau ada yang bertanya,
"Sudah matang belum konsep dan arahnya?"
Wah, bukan matang lagi. Over cook. Hahaha...

Seharusnya saya mulai menulis proposal, tapi... malah mood menulis blog. Ya, maafkan hamba yang sedang jenuh. Ampuni hamba yang tidak bisa menahan keinginan meng-update blog, sehingga terlihat lebih peduli terhadap blog dibandingkan proposal.

*Ps: Teruntuk dosen pembimbing, saya akan mengerjakan proposal saya, Bu. Absolutely. Hanya butuh waktu dan suasana yang tepat. Dan saya sedang mencari itu.

Selasa, 18 Oktober 2016

Lelahku di Jakarta Malam Hari

Maafkan,
ketika diri ini tidak sanggup
menanggung beban
Maafkan,
ketika hati ini berkata,
"Aku lelah"

Biarkan seluruh lelah,
peluh keringatku
larut dalam langit Jakarta
malam hari

Tuhan,
izinkan aku
menumpahkan,
melampiaskan semua

Tuhan,
izinkan aku
berada di sini
Di puncak tertinggi
Di Jakarta
pada malam hari

Sabtu, 20 Agustus 2016

Salamku Mengudara

Memang tak terlihat,
namun ia mengudara
Semoga ia sampai padamu,
yang ditujukan
Semoga ia terdengar olehmu,
wahai penerima

Semoga memang benar kau mendengar
Deru angin yang membawa sepatah
bahkan dua patah kata
dengan untaian do'a
di ujung salamku

Semoga ia mengudara
sampai ke hatimu