Selasa, 18 Oktober 2016

Lelahku di Jakarta Malam Hari

Maafkan,
ketika diri ini tidak sanggup
menanggung beban
Maafkan,
ketika hati ini berkata,
"Aku lelah"

Biarkan seluruh lelah,
peluh keringatku
larut dalam langit Jakarta
malam hari

Tuhan,
izinkan aku
menumpahkan,
melampiaskan semua

Tuhan,
izinkan aku
berada di sini
Di puncak tertinggi
Di Jakarta
pada malam hari

Sabtu, 20 Agustus 2016

Salamku Mengudara

Memang tak terlihat,
namun ia mengudara
Semoga ia sampai padamu,
yang ditujukan
Semoga ia terdengar olehmu,
wahai penerima

Semoga memang benar kau mendengar
Deru angin yang membawa sepatah
bahkan dua patah kata
dengan untaian do'a
di ujung salamku

Semoga ia mengudara
sampai ke hatimu

Rabu, 29 Juni 2016

Kenangan (dalam) Hujan

Aku menggerutu
Ya, aku menggerutu saat kenangan itu lewat
Mencoba kembali ke masa lalu
Aku tersenyum, menghelas napas

Berhenti di suatu tempat
Seolah melihat reka ulang masa itu
Aku menggerutu lagi,
"Seandainya aku bisa kembali lagi"
Namun sudah terlambat

Waktu tak dapat diputar ulang
Aku hanya rindu
Ingin menyampaikan
"Tulisan tanganmu sudah tidak ada"

Hingga reka ulang itu memudar
Aku sadar itu hanya bayang-bayang kelam
Sepenggal kisah pertemuan yang kontradiksi
Yang sering dipertemukan dalam hujan

Senin, 27 Juni 2016

Dilema: Tentang Impian Terpendam

Lama rasanya tak menulis. Ya, menuliskan keresahan-keresahan yang ada pada diri. Entah, saya harus memulai dari mana, karena terlalu banyak keresahan yang saya rasakan.

Kalau saya dihadapkan pada dua pilihan, di mana salah satu dari pilihan tersebut ialah musik dan saya diharuskan memilih, maka jawabannya ialah saya tidak bisa memilih. Kenapa? Butuh penjelasan yang cukup panjang dan saya akan menjelaskannya.

Musik sempat menjadi bagian yang cukup penting dalam hidup saya sebelum saya seperti sekarang. Lantas, bagaimana dengan sekarang? Musik masih menjadi bagian hidup saya, walaupun tidak sepenting dulu. Kalau bicara soal musik, saya teringat dengan kutipan yang pernah dikirimkan seseorang kepada saya – yang membuat saya cukup tertohok.

Tak bisa saya pungkiri, bahwa… saya tak bisa mengelak  musik telah menjadi bagian hidup saya. Maafkan saya … Maafkan atas ketidaksiapan saya dengan segala komitmen yang telah saya buat, salah satunya berhijrah dari musik. Maafkan saya yang kembali mendengarkan musik. Maafkan…

Jauh sebelum saya memutuskan seperti sekarang, saya memiliki satu impian terpendam. Berkarier dalam bidang seni, terutama musik. Akan tetapi saya sadar, dengan penampilan saya sekarang, rasanya tak mungkin menggapai impian terpendam itu.

Biarlah… Biarkan saya mengubur impian itu sampai serpihan-serpihannya. Impian itu tetap menjadi bagian dari hidup saya, walaupun tak bisa saya gapai. Hidup tak melulu sesuai apa yang dicita-citakan. Hidup berjalan sesuai takdir dan kehendak-Nya. Apapun yang telah dipersiapkan-Nya – percayalah, itu yang terbaik dan ideal untuk kita.

Jumat, 03 Juni 2016

Mengenang (di sela) Begadang

Kronologi hari ini yang membuat saya menorehkan rangkaian kalimat di sini...

Akses internet ---> Online media sosial ---> Lihat timeline ---> ... ---> Menatap gambar

Seorang teman SMA meng-upload sebuah gambar di media sosial mengenai pra-rencana hidupnya. Entah mengapa saya teringat teman semasa SMP dulu. Sewaktu SMA, saya dan dia bisa dibilang masih rajin berkomunikasi, walalupun kami berada di SMA yang beda. Pun sekarang, saya dengan dia kuliah di tempat, negara, bahkan benua yang beda. Namun, komunikasi saya dengan dia sudah jarang, bahkan hampir tidak pernah. Terakhir komunikasi ketika saya semester 2 (kalau tidak salah). Sekarang, saya sudah berkutat dengan kesibukan sendiri, pun demikian dia.

Seandainya saya diberi waktu berkomunikasi, hanya ingin menyampaikan...

"Masih ingat si 'itu' nggak? Dia mau nikah lho dengan calon tunangan dan istrinya..."

Jumat, 13 Mei 2016

Waktu (yang) Menjawab

Sudah lama juga tak menulis mengetik di sini. Hari ini, saya menyempatkan (sedikit) waktu untuk menuangkan apa yang ada di pikiran saya.

Berawal dari kejadian beberapa waktu lalu. Singkat cerita, saya membuka salah satu akun media sosial. Kemudian, saya memeriksa notifikasi media sosial tersebut. Apa yang saya dapat? Jawaban. Iya, sebuah jawaban.

Sejujurnya, saya (sudah) tidak mengharapkan jawaban itu. Mengapa? Karena... Secara logika, (hampir) tidak ada komunikasi. Jadi, (jawaban) apa yang harus saya harapkan? Biar saja waktu yang menjawab. And it has proved. Time has answered it.

Lalu, bagaimana selanjutnya? Entahlah... Biarkan waktu yang menjawab.

Saya yakin jawaban terindah ialah jawaban yang dikirim oleh-Nya melalui waktu-Nya.

Senin, 04 April 2016

Terima Kasih

Terima kasih atas jawaban yang Kau berikan
Jawaban dari doa-doaku yang kupanjatkan saat hujan
Yang turun deras dan kulihat dari kaca jendela
Bersama langit gelap diiringi nada-nada halilintar

Terima kasih untuk rangkaian petunjuk yang telah Kau kirimkan
Petunjuk dari-Mu yang kadang aku abaikan, tak kuindahkan
Kau bilang menjauh, namun aku mendekat
Hingga aku tak sadar, Kau turunkan petunjuk-petunjuk-Mu sangat jelas

Terima kasih...
Sebelum semua terlanjur, sebelum semua mendalam
Terima kasih...
Kau beri di awal, agar diriku tak tenggelam dalam sebuah rasa