Senin, 27 Juni 2016

Dilema: Tentang Impian Terpendam

Lama rasanya tak menulis. Ya, menuliskan keresahan-keresahan yang ada pada diri. Entah, saya harus memulai dari mana, karena terlalu banyak keresahan yang saya rasakan.

Kalau saya dihadapkan pada dua pilihan, di mana salah satu dari pilihan tersebut ialah musik dan saya diharuskan memilih, maka jawabannya ialah saya tidak bisa memilih. Kenapa? Butuh penjelasan yang cukup panjang dan saya akan menjelaskannya.

Musik sempat menjadi bagian yang cukup penting dalam hidup saya sebelum saya seperti sekarang. Lantas, bagaimana dengan sekarang? Musik masih menjadi bagian hidup saya, walaupun tidak sepenting dulu. Kalau bicara soal musik, saya teringat dengan kutipan yang pernah dikirimkan seseorang kepada saya – yang membuat saya cukup tertohok.

Tak bisa saya pungkiri, bahwa… saya tak bisa mengelak  musik telah menjadi bagian hidup saya. Maafkan saya … Maafkan atas ketidaksiapan saya dengan segala komitmen yang telah saya buat, salah satunya berhijrah dari musik. Maafkan saya yang kembali mendengarkan musik. Maafkan…

Jauh sebelum saya memutuskan seperti sekarang, saya memiliki satu impian terpendam. Berkarier dalam bidang seni, terutama musik. Akan tetapi saya sadar, dengan penampilan saya sekarang, rasanya tak mungkin menggapai impian terpendam itu.

Biarlah… Biarkan saya mengubur impian itu sampai serpihan-serpihannya. Impian itu tetap menjadi bagian dari hidup saya, walaupun tak bisa saya gapai. Hidup tak melulu sesuai apa yang dicita-citakan. Hidup berjalan sesuai takdir dan kehendak-Nya. Apapun yang telah dipersiapkan-Nya – percayalah, itu yang terbaik dan ideal untuk kita.

Jumat, 03 Juni 2016

Mengenang (di sela) Begadang

Kronologi hari ini yang membuat saya menorehkan rangkaian kalimat di sini...

Akses internet ---> Online media sosial ---> Lihat timeline ---> ... ---> Menatap gambar

Seorang teman SMA meng-upload sebuah gambar di media sosial mengenai pra-rencana hidupnya. Entah mengapa saya teringat teman semasa SMP dulu. Sewaktu SMA, saya dan dia bisa dibilang masih rajin berkomunikasi, walalupun kami berada di SMA yang beda. Pun sekarang, saya dengan dia kuliah di tempat, negara, bahkan benua yang beda. Namun, komunikasi saya dengan dia sudah jarang, bahkan hampir tidak pernah. Terakhir komunikasi ketika saya semester 2 (kalau tidak salah). Sekarang, saya sudah berkutat dengan kesibukan sendiri, pun demikian dia.

Seandainya saya diberi waktu berkomunikasi, hanya ingin menyampaikan...

"Masih ingat si 'itu' nggak? Dia mau nikah lho dengan calon tunangan dan istrinya..."

Jumat, 13 Mei 2016

Waktu (yang) Menjawab

Sudah lama juga tak menulis mengetik di sini. Hari ini, saya menyempatkan (sedikit) waktu untuk menuangkan apa yang ada di pikiran saya.

Berawal dari kejadian beberapa waktu lalu. Singkat cerita, saya membuka salah satu akun media sosial. Kemudian, saya memeriksa notifikasi media sosial tersebut. Apa yang saya dapat? Jawaban. Iya, sebuah jawaban.

Sejujurnya, saya (sudah) tidak mengharapkan jawaban itu. Mengapa? Karena... Secara logika, (hampir) tidak ada komunikasi. Jadi, (jawaban) apa yang harus saya harapkan? Biar saja waktu yang menjawab. And it has proved. Time has answered it.

Lalu, bagaimana selanjutnya? Entahlah... Biarkan waktu yang menjawab.

Saya yakin jawaban terindah ialah jawaban yang dikirim oleh-Nya melalui waktu-Nya.

Senin, 04 April 2016

Terima Kasih

Terima kasih atas jawaban yang Kau berikan
Jawaban dari doa-doaku yang kupanjatkan saat hujan
Yang turun deras dan kulihat dari kaca jendela
Bersama langit gelap diiringi nada-nada halilintar

Terima kasih untuk rangkaian petunjuk yang telah Kau kirimkan
Petunjuk dari-Mu yang kadang aku abaikan, tak kuindahkan
Kau bilang menjauh, namun aku mendekat
Hingga aku tak sadar, Kau turunkan petunjuk-petunjuk-Mu sangat jelas

Terima kasih...
Sebelum semua terlanjur, sebelum semua mendalam
Terima kasih...
Kau beri di awal, agar diriku tak tenggelam dalam sebuah rasa

Jumat, 11 Maret 2016

Kembali Menyapa

Haiiii....!!!

Lama rasanya tak berkunjung ke blog ini. Setelah sekian lama tak menulis di sini, rasaku ingin kembali menyapa.

Welcome back! Welcome on my blog, Cerita Reicka *warm smile*

Minggu, 04 Januari 2015

Akhir Tahun = Akhir Kehidupan?

"Bisa jadi akhir tahun adalah akhir perjalanan kehidupan kita. Ya, siapa yang tahu, kecuali Allah SWT."
31 Desember merupakan penghujung tahun - penutup tahun tersebut, lorong waktu yang membawa ke tahun yang akan datang, atau sebut saja gerbang penutup dan pembuka. 31 Desember identik dengan perayaan besar yang dialibikan sebagai ekspresi sukacita menyambut tahun baru yang lebih baik. Ada yang salah? Tidak, tidak ada yang yang salah bagi orang yang memilih jalan ini, namun beberapa orang tak sejalan dengan pilihan tersebut salah satunya saya.

Bukan berarti saya anti atau menentang perayaan tersebut, hanya saja saya berusaha menyikapi euforia pergantian tahun ini dengan bijak. Bukan berarti juga saya tidak pernah merayakan dan merasakan euforia pergantian tahun, namun saat ini dan seterusnya saya memilih untuk bersikap biasa saja menyikapi moment tersebut. Tentu bukan tanpa alasan saya memilih bersikap seperti ini, Ada alasan mendasar saya memilih jalan tersebut. Pertama, perayaan tersebut tidak ada dalam ajaran agama yang saya anut. Kedua, siapa yang tahu saat itu adalah hari terakhir di dunia? Siapa yang bisa menjamin, kecuali Allah SWT.

Minggu, 14 Desember 2014

Monolog: Berlebihan Juga Tidak Baik

"Berlebihan juga tidak baik, kawan."
Jadi, apa yang harus saya lakukan?
"Sewajarnya saja. Kalau bahasa kerennya just let it flow."
Memangnya kenapa jika terlalu berlebihan? Apakah berakibat buruk terhadap saya?
"Tentu. Jika kamu terlalu sering merasakannya, bukan hanya berakibat buruk terhadap dirimu, tetapi juga buruk terhadap lingkungan di sekitarmu, bahkan berbagai aktivitasmu."
Lalu, saya harus bagaimana?
"Tetap berusaha dan istiqomah serta selalu memohon perlindungan-Nya. Kuatkan imanmu dan tingkatkan ibadah ruhiyahmu. Ingat, kamu tidak sendiri. Ada Allah SWT yang senantiasa bersama hamba-hamba-Nya, termasuk kamu."