Minggu, 14 Desember 2014

ABSTRAK

Mungkin aku harus berlari sejenak
Walau napas ini tersengal
Bahkan mungkin aku harus terus bergerak menjauh
Sampai rasa ini bisa kuterima
Sampai aku ikhlas mengakui bahwa rasa ini benar-benar ada
Memang tak mudah
Menyesali pun tiada guna
Seperti ini pun karena perbuatanku
Kesan pertamaku dan aku yang memulainya
Maafkan bila di tengah-tengah aku berhenti walau hanya sejenak
Kemudian aku berlari lagi tanpa tahu kapan aku benar-benar berhenti
Namun yang pasti terima kasih telah hadir
Terima kasih atas segala sikap
Terima kasih untuk kata motivasi walau tak terucap

Note: Puisi ini dibuat dari inspirasi yang datang mendadak saat senja tiba di Jatimekar, Bekasi, tepatnya saat sedang menunggu siswa les di tempat mengajar (bimbingan belajar).

Sabtu, 15 November 2014

Pertemuan

Tuhan mempertemukan kita dalam berbagai keadaan. Setidaknya (mungkin) ada tiga keadaan sesuai yang saya tangkap dan alami.
  1. Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan sadar.
  2. Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan sadar namun hanya salah satu di antara kita yang menyadari.
  3. Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan tidak sadar melainkan orang lain yang sadar akan pertemuan tersebut.
Terlepas dari apapun keadaannya, saya percaya dan yakin bahwa pertemuan tersebut bukan karena kebetulan semata. Pertemuan itu sudah ada yang mengatur - Sang Pencipta dan Penguasa Alam Semesta.

Kamis, 16 Oktober 2014

Perjalanan

Semula langkahku melebihi langkahmu
Terus berlari menjejaki jalur hitam
Tak sampai lima menit semua berubah
Langkahmu mendahuluiku perlahan

Aku tertinggal beberapa langkah darimu
Tapi tak sampai tak hingga
Kini aku berada di belakangmu
Walau tidak tepat

Kau terus berlari tanpa kutahu
Sesuatu yang kau kejar
Mungkin memang tak seharusnya aku tahu
Cukup dirimu yang mengetahuinya

Perjalanan yang kita lalui sekilas sama
Pada kenyataannya tidak
Di persimpangan kita memilih jalur masing-masing
Aku ke kanan tanpa tahu kau ke mana

Perjalanan ini memang sekilas sama
Karena mulanya kita berada pada satu jalur
Perjalanan ini bukan milik bersama
Perjalanan ini milik masing-masing
Perjalananku, milikku
Perjalanmu, milikmu

Senin, 13 Oktober 2014

Sebuah Percakapan

Percakapan ini terjadi kurang dari seminggu yang lalu, bahkan belum sampai tiga hari yang lalu.

Sebut saja X dan Y sedang melakukan percakapan yang tak disengaja saat malam mulai berakhir menuju dini hari.

Y: "Lho? Tidur masih pakai jilbab juga?"
X: "Iya."
Y: "Saya kira dibuka."
X: "Ya nggaklah. Lagipula ini tempat terbuka dan semua peserta - laki-laki dan perempuan - membaur. Bagaimana bisa dibuka? Ya kecuali pesertanya perempuan semua. Tapi itupun nggak jadi jaminan bisa lepas jilbab juga sih. Waktu ikut kegiatan yang pesertanya perempuan dalam satu vila, saya tidur tetap mengenakan jilbab."
Y: (dengan suara pelan) "Iya, saya sudah dapat materi itu."
X: (kurang tanggap dengan pembicaraan Y) "Kenapa?"
Y: "Nggak. Lupakan."
....
Percakapan di atas bukan percakapan yang asli. Percakapan tersebut telah melalui proses penyuntingan dari sudut pandang penulis. Percakapan tersebut nyata dan bagian dari pengalaman penulis.

Senin, 06 Oktober 2014

Elegiku

Elegiku...
Tenggelam bersama lembayung senja di Jakarta
Larut dalam keramaian ibukota
Terhampar di alam semesta

Elegiku...
Berada di antara jutaan orang
Namun tak diketahui kerumunan orang
Terbawa angin darat yang berhembus

Elegiku...
Ada di sini, tak terlihat
Bersembunyi dalam bayang kabut
Memaksa muncul di malam kelam

Elegiku...
Cukup diriku yang tahu
Mereka hanya bisa menilai
Tak mengerti makna sebenarnya

Sabtu, 27 September 2014

(Bukan) Sebuah Rencana

Malam ini... cukup berbeda. Versi saya.

Tiba-tiba saya berpikir apa yang saya alami dan lalui tidak seratus persen rencana saya, bahkan di luar keinginan saya. Semua yang terjadi dalam hidup saya, apapun itu, saya yakin ada campur tangan Sang Pencipta, Allah SWT. Termasuk yang saya alami saat ini.

Bagaimana saya harus memulai cerita ini? Baiklah, saya tidak akan menceritakan secara detail karena ada beberapa bagian yang tidak bisa saya tuliskan di sini.

Pertemuan. Satu kata yang berasal dari kata dasar temu. Saya tidak pernah mengira, bahkan merencanakan akan bertemu dengan siapa dalam hidup saya. Mungkin saya bisa merencanakan hidup - cita-cita dan yang harus saya lakukan di masa depan - baik jangka pendek, maupun jangka panjang. Tapi tidak dengan pertemuan. Untuk hal yang satu itu, saya memilih prinsip menjalani apa yang ada, karena menurut saya merencanakan dengan siapa kita akan bertemu itu sesuatu yang sulit.

Saya tidak pernah menyangka, ketika saya berada di jenjang pendidikan tertinggi yang saat ini saya jalani, saya bertemu dengan berbagai macam orang yang memiliki kepribadian dengan ciri khas masing-masing. Termasuk orang yang satu ini. Pertemuan saya dengan orang ini benar-benar di luar rencana saya. Lagipula, saya setiap orang yang saya temui itu benar-benar tidak terlepas dari peran dan rencana Allah SWT. Maa syaa Allah.

Ternyata kesan dan penilaian pertama tidak selalu jadi acuan untuk menilai kepribadian seseorang. Pernyataan tersebut mematahkan prinsip saya terdahulu bahwa kesan dan penilaian pertama merupakan acuan berubah menjadi kesan dan penilaian pertama itu penting. Awalnya, saya merasa (entah) beruntung juga (entah) sial bertemu dengan orang ini. Ada satu hal yang membuat saya merasa... Entah, saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya saat itu. Mungkin semua perasaan menjadi satu, campur aduk. Satu hal yang membuat saya bertahan. Mau tidak mau harus saya jalani. Ini rencana Allah SWT. Dia tahu yang terbaik untuk saya. Waktu terus berjalan hingga akhirnya saya berada di 'titik balik' yang membuat saya bertanya pada diri saya, "Benarkah?". Bahkan sampai saat ini, kadang pertanyaan tersebut masih bermunculan di lubuk hati. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya saya berpikir bahwa ini jalan yang harus saya lalui. Soal pertemuan itu di luar kehendak saya.

Apapun yang terjadi, khususnya pertemuan itu, bukan rencana saya. Saya yakin pertemuan itu membawa hikmah dalam hidup saya. Hikmah yang belum saya ketahui dan saya yakin hikmah tersebut baik untuk saya. In syaa Allah.

Selasa, 23 September 2014

Sisa-sisa Keikhlasan

Judul di atas terinspirasi dari lagu salah satu band indie terkenal.
Payung Teduh - Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan
Saya sarankan membaca posting ini sambil mendengarkan lagu di atas.

Bicara soal sisa-sisa keihlasan... Miris. Lebih baik tidak diikhlaskan daripada menjadi sisa-sisa keikhlasan. Lho? Kenapa? Karena menurut saya menjadi sisa itu tidak enak. Tersisih. Sedih.

Kenapa bahasannya jadi begini ya?

Entahlah, apa yang ada di pikiran saya coba tuangkan ke sini. Walau hanya sepercik kata-kata yang mungkin (belum tentu) dimengerti kalian.